KEPRI KESEHATAN TANJUNGPINANG

Vnews.click, Tanjungpinang – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, dokter Benjamin Paulus Octavianus, menyebut 95 persen orang sakit tuberkulosis (TBC) di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) berhasil diobati atau termasuk tertinggi secara nasional.

“Kalau perkara mengobati TBC di Kepri sudah sangat baik, patut kita apresiasi,” kata Wamenkes di Aula Wan Seri Beni, Tanjungpinang, Dompak, Jumat (11/9/2026).

Meski demikian, kata dia, penanganan kasus TBC tidak cukup dengan pengobatan semata, namun harus dibereskan dari hulu yang dimulai dengan menemukan orang menderita TBC agar bisa segera diobati sebelum kondisinya semakin parah.

Ia menyoroti Kepri menjadi salah satu provinsi yang menemukan kasus TBC paling rendah secara nasional, karena dihadapkan dengan tangangan geografis daerah kepulauan dengan dan biaya yang mahal.

Menurutnya dari 13.000 ribu kasus TBC yang ditemukan di Kepri, baru 6.618 kasus (51,2 persen) berhasil diobati, sementara 6.832 kasus (49,8 persen) lainnya belum diobati, sehingga berpotensi menularkan TBC satu sama lain.

“Makanya, kasus TBC di Indonesia sulit turun karena tak diobati. TBC bisa menyebabkan kematian jika tak ditangani dengan tepat dan tuntas,” ujar dia.

Wamenkes menekankan perlunya starategi khusus untuk menemukan kasus TBC di Kepri yang didominasi wilayah kepulauan tersebut, salah satunya dengan mengintegrasikan layanan cek kesehatan gratis (CKG) dengan penelusuran penyakit TBC menggunakan mesin X-Ray.

Selain itu, ia turut mendorong dinas kesehatan bersama semua stakeholder terkait termasuk kader TBC mengintensifkan pemeriksaan kontak serumah (keluarga) dengan penderita TBC.

“Kita jangan cuma sibuk obati orang sakit TBC, tapi orang kontak serumah tidak diperiksa,” ucapnya.

Lanjutnya menyampaikan orang pertama terkena serangan kuman TBC baru merasakan keluhan sakit setelah 10 sampai 11 minggu kemudian.

Kuman TBC bersifat dorman atau tidak aktif pada saat menempel dalam tubuh seseorang, namun ia akan bangun ketika kondisi tubuh mulai lemah.

“Saya minta Camat, Lurah, PKK dan kader TBC juga aktif memantau orang sakit TBC. Kalau sudah ditemukan, berikan obat sampai ia sembuh total,” ujar dia.

Wamenkes menegaskan bahwa penyakit TBC bisa diobati dengan deteksi dini dan minum obat rutin sesuai pentunjuk dokter. Penyakit ini termasuk infeksi menular serius yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Ia menambahkan Kemenkes turut andil mendukung penuntasan TBC di daerah-daerah se-Indonesia, termasuk Kepri melalui penambahan insentif kader, menyiapkan obat-obatan, pendanaan hingga peralatan kesehatan penunjang pemeriksaan TBC.

“Dengan semangat bersama, saya optimistis penyakit TBC di tanah air bisa diatasi, termasuk di Keprin” pungkas Wamenkes. (Lus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *