KEPRI PEMERINTAHAN TANJUNGPINANG

Vnews.click, Tanjungpinang – Dewan Energi Nasional (DEN) RI mensosialisasikan penguatan cadangan penyangga energi (CPE) dalam kerangka kebijakan energi nasional kepada ratusan mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Rabu (30/9/2026).

“Sosialisasi ini bertujuan memperkuat sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi, serta memperkuat peran perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah daerah dan komunitas akademik dalam mendukung implementasi PP 40/2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), yang di dalamnya juga memuat mengenai cadangan penyangga energi (CPE),” kata Anggota Pemangku Kepentingan DEN, Muhammad Kholid Syeirazi, dalam pemaparannya di Gedung Audiotorium UMRAH, Dompak, Tanjungpinang.

Kholid memaparkan bahwa PP 40/2025 menekankan pemanfaatan energi secara lebih berkelanjutan melalui peningkatan peran energi baru dan terbarukan (EBT), pengurangan bertahap ketergantungan pada energi fosil, pemanfaatan gas bumi sebagai energi transisi, serta pengembangan energi nuklir guna menjaga keandalan sistem energi nasional dan mendukung dekarbonisasi.

Menurutnya porsi EBT dalam bauran energi nasional ditargetkan meningkat dari 19-23 persen pada 2030, menjadi 70-72 persen pada 2060.

Selain itu, kata dia, PP 40/2025 Pasal 20 juga mengamanatkan penyediaan CPE guna menjamin keamanan pasokan dan ketahanan energi nasional.

Ia menyebut dinamika geopolitik global memberi tekanan pada ketahanan energi di tanah air, khususnya pada penyediaan BBM dan LPG.

“Kementerian ESDM mencatat cadangan energi nasional berada pada kisaran 21-28 hari, dengan angka impor yang masih tinggi atau sekitar 20-25 persen crude oil dari total impor crude oil, dan 30 persen LPG dari total impor LPG,” ungkapnya.

Lanjutnya menyampaikan volume cadangan operasional BBM dan LPG dijaga pada level yang diatur dalam regulasi untuk menjamin kontinuitas pasokan ke konsumen. Cadangan operasional BBM ditargetkan 23 hari, sedangkan cadangan operasional LPG minimal 11 hari.

Kholid kemudian menjelaskan strategi pemerintah menjaga ketersediaan paskan energi dalam negeri. Strategi jangka pendek diarahkan untuk menjamin stok dan distribusi energi, lalu menahan harga BBM subsidi, dan diversifikasi impor energi.

Kemudian strategi jangka menengah melalui optimalisasi energi domestik dan penguatan cadangan energi nasional melalui pembangunan CPE.

“Strategi jangka panjang fokus pada transisi energi dan mengurangi ketergantungan impor atau memperkuat swasembada energi dalam negeri,” paparnya.

Kholid turut mengungkapkan cadangan penyangga energi/CPE disediakan oleh pemerintah dan disimpan untuk
mengatasi kondisi krisis energi dan darurat energi.

CPE telah diatur dalam regulasi sebagai cadangan di luar cadangan operasional yang penyediaannya dilakukan secara bertahap sesuai kondisi keekonomian dan kemampuan keuangan negara untuk mengantisipasi kondisi krisis dan darurat energi. Jenis komoditas CPE, meliputi minyak Bumi, BBM (jenis bensin), dan LPG.

“Jumlah target CPE setara 30 hari impor, dengan rincian volume persediaan minyak bumi 10,17 juta barel, BBM (Bensin) 9,64 juta barel, dan LPG 525,78 ribu metrik ton,” jelas Kholid. (Lus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *