Vnews.click, Tanjungpinang – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tanjungpinang meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan kasus demam malaria dalam periode tiga tahun terakhir.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tanjungpinang, Sri Handono, mengatakan kasus malaria di daerah itu mulai meningkat pada 2024, setelah menyandang status eliminasi malaria sejak 2014.
“Tahun 2024 ada 129 kasus malaria di Tanjungpinang, lalu 2025 ada 59 kasus, dan 2026 sampai bulan April sudah ada 55 kasus,” kata Sri Handono, Jumat (1/5/2026).
Handono menyebutkan dari total 18 kelurahan di Kota Tanjungpinang, masing-masing punya karakteristik berbeda dan tingkat risiko penularan malaria.
Namun, menurutnya, ada dua kelurahan yang paling rawan atau berisiko tinggi malaria, yaitu Kampung Bugis dan Senggarang.
Dua kawasan ini termasuk daerah resepetif, yakni wilayah yang memiliki kepadatan vektor (nyamuk Anopheles) tinggi, faktor lingkungan, serta iklim yang mendukung penularan malaria.
“Salah satunya, banyak terdapat kolam pasca tambang dengan air payau, sehingga menjadi tempat yang paling disenangi nyamuk Anopheles, dan berpotensi menimbulkan malaria,” ujarnya.
Selain faktor lingkungan, kata dia, manusia juga berpengaruh terhadap penularan malaria.
Menurutnya sebagai ibukota Provinsi Kepri, migrasi manusia di Tanjungpinang relatif cepat. Ketika ada pekerja datang dari daerah yang belum bebas malaria, maka ia berpotensi menularkan penyakit tersebut.
Handono menyampaikan berbagai upaya pencegahan dan pengendalian terus dijalankan agar jangan sampai perkembangan kasus malaria di Tanjungpinang menjadi tidak terkendali.
Beberapa upaya yang telah dilakukan Dinkes Tanjungpinang, di antaranya menaburkan ikan pemakan jentik di kolam-kolam bekas galian guna mengendalikan perkembangan nyamuk.
Kemudian, menggunakan larvasida aktif untuk mengganggu pertumbuhan nyamuk agar lahir tidak normal dan bereproduksi.
Berikutnya, melakukan survei migrasi terhadap pekerja dari luar daerah melalui pemeriksaan kesehatan, terutama dari daerah belum bebas malaria.
Selain itu, dalam melakukan pengendalian peningkatan kasus malaria, diagnosis dan pengobatan menjadi langkah yang paling penting.
“Temukan dan obati. Segera berikan obat kepada pasien positif malaria untuk menghilangkan risiko menularkan kepada orang lain,” pungkasnya. (Lus)

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

