KEPRI PARBUD TANJUNGPINANG

Vnews.click, Tanjungpinang – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menyatakan pentingnya revitalisasi bahasa daerah, khususnya bahasa Melayu bagi anak-anak di Provinsi Kepri agar tidak punah dimakan zaman.

Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, mengatakan pihaknya melalui Kantor Bahasa Provinsi Kepri telah bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat guna merevitalisasi bahasa Melayu yang ditujukan kepada anak-anak SD hingga SMP.

“Upaya yang kita lakukan ialah bagaimana anak-anak mengenal, membiasakan serta menguasai bahasa daerah, misalnya melalui lomba bernyanyi, syair, puisi, berpantun hingga menulis cerpen dengan bahasa Melayu,” kata Muksin di RRI Tanjungpinang, Kepri, Kamis (29/1/2026).

Upaya seperti itu, menurutnya, penting dilakukan karena kondisi masyarakat di Kepri yang heterogen, berdampak pada penggunaan bahasa Melayu yang sudah mulai dilupakan dalam percakapan sehari-hari.

Bahkan Muksin sempat bertanya dengan sejumlah pelajar SD di Tanjungpinang terkait penguasaan bahasa Melayu. Dari sekian banyak pelajar yang ditanya, hanya satu orang bisa berbahasa Melayu, karena sebagian besar lainnya sudah menggunakan bahasa Indonesia.

Maka itu, Muksin turut mendorong peran keluarga atau orangtua dapat menumbuhkan sikap positif terhadap penggunaan bahasa daerah agar budaya, adat dan karakter masyarakat Melayu yang tumbuh melalui bahasa dapat terus dilestarikan.

“Terlebih lagi, di Kepri terdapat karya-karya sastra seperti Gurindam, Syair, dan Pantun yang sarat makna dan nilai-nilai nasehat serta karakter masyarakat,” ujarnya.

Lanjut Muksin menyampaikan pelestarian bahasa Melayu jadi fokus Kantor Bahasa bersama Pemerintah Provinsi Kepri melalui penandatanganan kesepakatan kerja sama/MoU tentang pembinaan dan pemartabatan bahasa Indonesia di lingkungan publik dan dinas, serta perlindungan bahasa daerah/Melayu.

Badan Bahasa pun terus berupaya menanggulangi supaya bahasa daerah tidak punah, mengingat sudah banyak bahasa daerah yang punah, lalu terancam punah, dan kritis.

“Meskipun bahasa Melayu tergolong aman, namun tingkat penggunaannya mulai turun, terutama anak-anak,” pungkasnya. (Lus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *