Advetorial EKONOMI KEPRI PEMERINTAHAN SOSIAL TANJUNGPINANG UPDATE

Tanjungpinang (Vnews.click), (Advetorial) – Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menyatakan produk-produk pelaku UMKM di Kepri sudah berhasil menembus pasar ekspor seperti Malaysia dan Singapura.

“Alhamdulillah, pelaku UMKM Kepri sudah mulai ekspor lagi setelah kemarin terdampak COVID-19, meskipun ekspornya masih secara kolektif atau satu kontainer ramai-ramai,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kepri, Riki Rionaldi, Kamis (26/9/2024).

Riky menyebut pelaku UMKM ekspor itu dominan berada di Kota Batam, di mana dari total 100-an pelaku UMKM berpotensi ekspor yang masuk dalam database Dinas Koperasi dan UKM Pemprov Kepri, terdapat sekitar 30-40 UMKM yang kembali aktif mengekspor produk-produk andalan mereka ke Singapura dan Malaysia.

Produk yang diekspor seperti makanan atau cemilan ringan dengan bahan baku nangka, pisang tanduk, dan rengginang. Selain ada pula fashion atau pakaian kurung khas Melayu yang dijahit pelaku UMKM di Kepri.

Ekspor itu rutin dilakukan, ada yang satu bulan sekali hingga dua bulan sekali. Nilai ekspornya mencapai ratusan juta rupiah untuk sekali ekspor.

“Meskipun secara kuantitas ekspor masih relatif kecil, tapi ini jadi motivasi bagus bagi pelaku UMKM menembus pasar ekspor,” ujar Riki.

Riki turut menyampaikan bahwa pihaknya juga merangkul beberapa praktisi ekspor, misalnya warga Melayu di negara Malaysia yang menjadi perantara ekspor produk UMKM dari Kepri.

Menurutnya hal itu dilakukan karena produk-produk UMKM Kepri tidak bisa dilepas begitu saja, melainkan memerlukan kerja sama dengan perantara yang lebih mengerti pasar ekspor, misalnya di Johor, Kuala Lumpur serta Malaka di Malaysia.

“Kita kerja sama dengan mereka dan ada hitung-hitungannya, karena orientasinya pasti profit. Makanya, kita lakukan pendampingan literasi hukum dengan menyiapkan advokat ketika melakukan perjanjian kerja sama tersebut,” ujarnya.

Rikt turut menegaskan bahwa pihaknya menaruh perhatian lebih terhadap para pelaku UMKM di Batam, karena jumlah pelaku UMKM terbesar berada di kawasan industi tersebut.

Selain itu, ketika industri UMKM bertumbuh maka multiflier efectnya juga bisa dirasakan oleh daerah lainnya, misalkan bahan baku produksinya bisa diambil dari Kabupaten Karimun hingga Bintan.

“Apalagi Batam berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia dan Singapura,” pungkasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *