Tanjungpinang (Vnews.click) – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji, menyatakan fenomena yang terjadi belakangan ini, banyak orangtua khususnya kaum perempuan Indonsesia ingin menikah, tapi tak mau punya anak. Totalnya mencapai 71 ribu orang perempuan.
Alasannya beragam, ada yang mengaku ribet mengurus anak, termasuk sibuk bekerja hingga tak punya waktu mengasuh anak.
“Oleh karena itu, kami menghadirkan program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) sebagai soluasi bagi orangtua sibuk bekerja, namun anaknya tetap mendapatkan pengasuhan berkualitas dan penuh kasing sayang,” kata Wihaji saat berkunjung ke Tamasya Asri di Jalan Kuantan, Kota Tanjungpinang, Kamis (23/10/2025).
Dalam kunjungan itu, Menteri Wihaji dan didampingi Gubernur Kepri Ansar Ahmad serta sejumlah pejabat/stakeholder mengecek satu per satu fasilitas di Tamasya Asri, mulai dari taman asuh, ruang bermain, tempat tidur, hingga kompetensi para pembina/pengasuh anak.
“Sudah kita cek, semuanya bagus. Ada sekitar 40 anak asuh, usianya lima sampai enam bulan. Anak-anak di sini wajib tidur siang, bahkan dimandikan dulu sebelum diambil orangtuanya,” katanya.
Wihaji menyebut Tamasya Asri ini murni diinisasi oleh pihak swasta, namun tetap masuk dalam pembinaan Kemendukbangga/BKKBN.
Beberapa fasilitas di Tamasya tersebut dikenakan bayaran, misalnya untuk makan siang hingga memandikan anak. Berbeda halnya dengan Tamasya milik pemerintah daerah/kementerian, tidak dikenakan biaya alias gratis.
Tamasya seperti ini, sangat dibutuhkan bagi orangtua (ayah dan ibu) yang sibuk bekerja, untuk menitipkan anak-anaknya.
“Di sini, model pola asuh anak disesuaikan dengan umurnya, tentu dengan metode dan cara khusus. Makanya, kita tekankan pengasuhnya harus lulus sertifikasi pengasuh anak,” ujar Wihaji.
Wihaji menambahkan saat ini sudah ada 3.202 Tamasya di Indonesia yang menjadi bagian dari pembinaan Kemendukbangga/BKKBN.
Tamasya itu ada yang diinisiasi swasta, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah provinsi hingga kementerian.
Tamasya sebagai bentuk kehadiran negara guna memastikan anak-anak sebagai generasi masa depan bangsa tetap memperoleh pengasuhan yang cukup meski ditinggal orangtuanya bekerja.
“Negara menjamin orangtua tetap bisa bekerja setelah punya anak, karena anak-anak mereka ada yang mengasuh,” pungkas Wihaji. (Lus)

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

