Vnews.click, Tanjungpinang – Penolakan penarikan valas dengan alasan ketiadaan stok tunai di tengah rencana penutupan kantor cabang Bank OCBC NISP Kota Tanjungpinang, menciptakan persepsi negatif bagi masyarakat, khususnya nasabah.
Secara kritis, hal ini bisa dianggap sebagai pengabaian terhadap hak dasar nasabah untuk mengakses likuiditas mereka sendiri.
“Jika memang bank OCBC NISP akan hengkang dari Tanjungpinang, seharusnya mereka memastikan proses transisi berjalan mulus, bukan justru mempersulit nasabah di saat-saat terakhir,” kata Anggota DPRD Kepri Dapil Tanjungpinang, Rudy Chua, Senin (6/4/2026).
Rudy turut prihatin dengan adanya rencana penutupan salah satu bank swasta besar di ibu kota provinsi Kepri tersebut, sebagai sebuah alarm lemahnya iklim investasi di daerah setempat.
“Apakah Tanjungpinang sudah tidak lagi dianggap prospektif secara bisnis oleh sektor perbankan, hal ini tentu menuntut respons dari pemerintah daerah untuk membuktikan bahwa stabilitas ekonomi tetap terjaga,” ujar Rudy.
Efek Domino Sektor Bisnis
Tanjungpinang dan Kepri secara umum memiliki keterkaitan erat dengan perdagangan internasional, karena kedekatannya dengan negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia.
Isu soal nasabah kesulitan menarik valas di OCBC NISP Tanjungpinang akan menghambat transaksi lintas batas bagi pelaku usaha lokal, yang pada akhirnya dapat memperlambat perputaran uang di daerah tersebut.
Hingga saat ini, pihak OCBC NISP Tanjungpinang belum memberikan penjelasan terkait kabar tersebut.
“Dalam manajemen krisis, ketidakhadiran penjelasan resmi justru menciptakan ruang bagi kepanikan atau perpindahan nasabah secara masif ke bank lain dengan sentimen negatif,” tutup Rudy. (Rais/tim)

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

