BINTAN

Bintan (vnews.click) – Pos Pelayanan Teknologi (Posyantek) Bina Desa Sejahtera, Desa Teluk Bakau dari Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) berhasil meraih juara tiga pada gelaran Teknologi Tepat Guna Nasional XXII.

“Alhamdulillah dari tiga kategori yang kita kirim ke tingkat nasional, dua masuk 10 besar. Posyantek Bina Desa Sejahtera dari Teluk Bakau berhasil meraih juara tiga,” kata Kadis Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Dukcapil Provinsi Kepri Sardison di Tanjungpinang, Selasa (21/09/2021).

Adapun juara satu diraih oleh Pos Posyantek dari Jawa Barat dan juara dua diraih oleh Posyantek dari Jawa Tengah. Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Desa PDTT Halim Iskandar di Jakarta.

Sardison menjelaskan Posyantek Bina Desa Sejahtera Teluk Bakau ini dipandang sukses merangkul beberapa pihak, hingga akhirnya menghasilkan produk ulat maggot. Yaitu, pakan alternatif yang tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk pakan ikan dan pakan ternak serta pupuk organik untuk pertanian.

Dia berharap ke depan Posyantek Bina Desa Sejahtera ini dapat berkembang pesat. Apalagi ulat maggot ini banyak dicari karena tingginya protein sebagai pakan ternak. 

Karena keberhasilan Posyantek meraih juara 3 pada Gelar TTG Nasional XXII, lanjutnya, Pemprov Kepri akan memberikan penghargaan atas prestasi dan sumbangsih mereka bagi daerah.

“Penghargaan yang kita terima ini juga sebagai hadiah untuk hari jadi Provinsi Kepri ke,19. InsyaAllah pada Upacara Peringatan Hari Jadi nanti, Gubernur Ansar Ahmad akan memberikan penghargaan kepada Posyantek dari Teluk Bakau ini,” sebut Sardison.

Sementara itu, Ketua Posyantek Bina Desa Sejahtera Teluk Bakau Rahmad Hidayat menyampaikan untuk bahan baku dari produk yang dihasilkan, mereka bekerjasama dengan pihak hotel. 

Pihak hotel membantu memisahkan sampah organik yang selanjutnya diproduksi menjadi ulat maggot. 
“Ulatnya itu berasal dari larva lalat tertentu. Jadi lalatnya tidak boleh terkontaminasi dengan sampah lain,” ujar Rahmat Hidayat.

Namun sayangnya, kata dia, selama pandemi COVID-19 ini bahan baku dari hotel berkurang sehingga Posyantek beralih ke bahan baku dari kotoran ayam. Mereka mendapat bantuan 1500 ekor ayam berserta pakannya, yang dikelola oleh kelompok-kelompok.

Lanjutnya ulat maggot ini cukup menjanjikan  di mana dari per kilogram sampah organik dapat menghasilkan setengah kilogram ulat maggot. 
Per kilogram ulat, dijual seharga Rp10 ribu kepada para pelaku usaha ternak. Mulai dari ternak ikan air tawar hingga untuk pakan burung.

“Kami bekerjasama dengan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) dalam hal pemasaran. BUMDes sudah menghasilkan Rp10 juta dari ulat maggot ini. Tapi sementara terhenti karena kurangnya bahan baku dari resort yang ada di Teluk Bakau,” kata Rahmat. (Lus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *