Vnews.click, Batam – DPD Projo Kepulauan Riau (Kepri) mendesak pemerintah pusat untuk mengevaluasi total kebijakan ekspor gas bumi ke Singapura.
Organisasi kemasyarakatan ini meminta ekspor tersebut dihentikan sementara waktu demi memprioritaskan pemenuhan kebutuhan energi domestik, khususnya untuk sektor industri dan kelistrikan di Batam yang kian mendesak.
Desakan tersebut mencuat di tengah tekanan nilai tukar rupiah, membengkaknya beban subsidi energi, serta meningkatnya kebutuhan energi nasional. Selama lebih dari dua dekade, gas alam dari perut bumi Kepri justru dinilai lebih banyak menghidupi negara tetangga.
”Sudah saatnya pemerintah meninjau ulang kebijakan ekspor gas bumi ke Singapura. Kami mendorong penghentian sementara ekspor gas agar kebutuhan energi dalam negeri, khususnya Batam dan Kepulauan Riau, dapat diprioritaskan terlebih dahulu,” ujar Sekretaris Projo Kepri, Herdiansyah, ST, kepada media di Batam, Sabtu (13/6/2026).
Paradoks Energi: Batam Lintasan Pipa, Singapura yang Menikmati
Herdiansyah, yang akrab disapa Dado, menyoroti adanya ketimpangan pemanfaatan sumber daya alam yang terjadi di Kepri. Berdasarkan data pembahasan di Komisi XII DPR RI, produksi gas dari sistem West Natuna Transportation System (WNTS) mencapai 190 MMSCFD. Dari jumlah tersebut, mayoritas atau sekitar 150 hingga 160 MMSCFD justru dialirkan ke Singapura.
Sementara itu, Batam baru akan mendapatkan alokasi sebesar 110 BBTUD (80 BBTUD untuk PLN Batam dan 30 BBTUD untuk industri) melalui proyek konektivitas pipa WNTS–Pulau Pemping–Batam yang saat ini baru memasuki tahap konstruksi.
”Ketika industri membutuhkan energi yang kompetitif dan PLN memerlukan pasokan yang stabil, seharusnya sumber daya alam kita terlebih dahulu dimanfaatkan untuk kepentingan nasional. Jangan sampai daerah yang menjadi pintu gerbang ekspor justru tidak menikmati manfaat maksimal,” tegas Dado.
Amunisi Penahan Beban APBN dan Subsidi
Lebih lanjut, Projo Kepri menilai pengalihan gas ekspor ke pasar domestik dapat menjadi stimulus penting bagi stabilitas ekonomi nasional. Dengan mengalirkan gas ke industri manufaktur dan kawasan strategis dalam negeri, Indonesia dapat menekan biaya energi, meningkatkan daya saing, serta menciptakan lebih banyak lapangan kerja.
Selain itu, optimalisasi gas domestik diyakini mampu menahan pembengkakan subsidi energi pada APBN. Dado menjelaskan, ketika harga BBM non-subsidi melonjak akibat gejolak ekonomi global, masyarakat rentan beralih ke BBM bersubsidi. Pemanfaatan gas bumi untuk sektor kelistrikan dinilai bisa menjadi solusi alternatif untuk menekan biaya energi nasional secara makro.
Sentil Singapura dan Kebocoran Aset
Dado juga merefleksikan posisi.
Singapura yang mampu menjadi pusat keuangan Asia Tenggara meski miskin sumber daya alam. Menurutnya, hal ini harus menjadi cambuk bagi Indonesia untuk lebih berani dan berdaulat dalam mengelola kekayaan alamnya sendiri.
Tak hanya soal energi, Projo Kepri juga memanfaatkan momentum ini untuk mendorong ketegasan hukum pemerintah terhadap sektor finansial.
”Kami mendukung penuh langkah pemerintah memperkuat penegakan hukum terhadap koruptor, pengemplang pajak, maupun pihak yang menyembunyikan aset hasil kejahatan di luar negeri. Negara harus memastikan tidak ada kebocoran yang merugikan perekonomian nasional,” pungkasnya.
Tantangan Kontrak Jangka Panjang
Meski desakan domestik menguat, menyetop aliran gas ke Singapura bukanlah perkara mudah. Pemerintah Indonesia saat ini masih terikat sejumlah kontrak jangka panjang (long-term contract) dengan pembeli di Singapura yang melibatkan korporasi energi multinasional.
Langkah penghentian ekspor dipastikan memerlukan kajian hukum yang mendalam, kalkulasi dampak ekonomi, serta diplomasi tingkat tinggi agar tidak memicu sengketa dagang internasional. Namun, tuntutan dari Batam ini kembali membuka diskursus penting, “Akankah gas bumi terus menjadi komoditas ekspor, atau beralih total menjadi motor penggerak industrialisasi di dalam negeri?”. (Rais/Red)

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

