Tanjungpinang (Vnews.click) – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Kepri, Aries Fariandi, meminta agar setiap Pemerintah Kabupaten/Kota memastikan intervensi program penanganan angka kemiskinan dilakukan berdasarkan Analisis Root Cause atau akar masalah utama kemiskinan di tiap-tiap wilayah.
Aries menjelaskan beberapa faktor penyebab tertinggi kemiskinan di Kepri, antara lain masalah pendapatan, terutama kurangnya lapangan pekerjaan yang menyumbang 43 persen.
Kemudian, pendapatan yang kecil juga menjadi faktor dominan lain dengan kontribusi sebesar 34 persen.
Sementara itu, rendahnya pendidikan kepala rumah tangga dan masalah kesehatan masing-masing menyumbang 7 persen.
“Sementara itu, isu harga barang kebutuhan pokok yang mahal turut memberikan kontribusi sebesar 4 persen terhadap penyebab kemiskinan,” tambah Aries.
Menurutnya, setiap kabupaten/kota harus memahami akar masalah kemiskinan di tingkat desa maupun kelurahan agar program yang disalurkan benar-benar solutif.
Ia nuga menyampaikan sejumlah data makro yang menunjukkan performa positif Kepri pada level nasional, antara lain lertumbuhan ekonomi (y-on-y) Kepri pada triwulan III Tahun 2025 tercatat sebesar 7,48 persen, menempatkan Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga secara nasional.
Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Agustus 2025 berhasil ditekan hingga mencapai 6,45 persen, menunjukkan tren perbaikan signifikan.
Kualitas hidup masyarakat Kepri pun tergambar melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencapai 80,53 poin pada tahun 2025. Capaian ini menempatkan Kepri sebagai provinsi dengan IPM ketiga tertinggi di Indonesia.
Dalam aspek kesejahteraan, Indeks Kebahagiaan Kepri tercatat sebesar 74,77 poin, menjadikannya provinsi dengan tingkat kebahagiaan keenam tertinggi secara nasional pada tahun 2025.
“Meskipun berbagai indikator ekonomi Kepri tinggi, isu kemiskinan tetap menjadi prioritas utama penanganan Pemprov Kepri,” ungkap Aries.
Dia menambahkan jumlah penduduk miskin per Maret 2025 sebanyak 117.280 orang atau setara dengan 4,44 persen penduduk Kepri.
Adapun Gini Rasio Kepri per Maret 2025 berada di angka 0,382 dan masih berada dalam kategori sedang.
Aries memastikan Kepri berkomitmen penuh terhadap instruksi Presiden untuk mencapai nol persen kemiskinan ekstrem pada tahun 2029.
“Saat ini, data per Maret 2025 menunjukkan bahwa Kemiskinan Ekstrem di Kepri berada pada kisaran 0,49 persen,” ujarnya.
Aries memaparkan adanya disparitas tingkat kemiskinan antar Kabupaten/Kota yang perlu menjadi perhatian.
Menurutnya tingkat kemiskinan tertinggi terdapat di Kabupaten Natuna sebesar 8,06 persen, disusul Kabupaten Lingga 7,68 persen, dan Kabupaten Kepulauan Anambas 6,70 persen.
“Sebaliknya, tingkat kemiskinan terendah dicatatkan oleh Kota Batam sebesar 4,03n Kota Tanjungpinang sebesar 4,39 persen,” pungkasnya. (Lus)

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

