KEPRI TANJUNGPINANG UPDATE

Tanjungpinang (Vnews.click) – Warga Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Ady Indra Pawennari, sukses menanam padi di halaman pekarangan rumahnya.

“Menanam padi tidak harus di hamparan sawah luas, namun juga bisa di pekarangan rumah,” kata pria yang akrab disapa Ady ini, Sabtu (27/5/2023).

Pria kelahiran Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, tahun 1973 tersebut memang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk menekuni bidang pertanian.

Ini wujud penghormatannya kepada orang tuanya dan penghargaan terhadap dirinya sendiri sebagai anak dari keluarga petani.

Sejak pertama kali merantau ke Kota Tanjungpinang sekitar tahun 1994, Ady bersama istri dan anak-anaknya hingga kini menetap di pusat Ibu Kota Provinsi Kepri.

Ia membangun sebuah paviliun berpagar cat warna hitam putih di atas lahan seluas 3.000 meter persegi di Jalan Nusantara I, Kelurahan Air Raja, Kecamatan Tanjungpinang Timur, Kota Tanjungpinang.

Selain terdapat bangunan utama atau hunian tempat tinggal, kawasan itu juga dikelilingi lahan pertanian dengan aneka tanaman buah tropis hingga sayur-sayuran.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah pemandangan tanaman padi yang tumbuh subur, letaknya persis di halaman belakang rumah Ady.

Tumbuhan yang menghasilkan beras itu ditanam di atas lahan seluas sekitar 4×9 meter dengan dibuat dua petak terpisah, masing-masing petak berukuran 2×9 meter.

“Uji coba penanaman padi ini kali pertama, saya lakukan pada Agustus 2022 dengan varietas padi ketan hitam dan panen perdana pada Desember 2022,” ujarnya.

Setelah itu, Ady kembali menanam padi pada awal Maret 2023, namun dengan jenis yang berbeda, yakni varietas CL 220.

Kini tanaman padi itu sudah setinggi pinggang orang dewasa. Biji padinya terlihat menyembul dari pohonnya. Merunduk, dengan bulir isinya yang terlihat gemuk.

“Varietas padi ini diperoleh dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Targetnya akan dipanen pada Juni 2023. Potensi produksi dari varietas padi CL 220 ini mencapai 13 ton per hektare,” ungkpanya.

Hasil panen padi milik Ady itu lalu diolah menjadi beras di tempat penggilingan yang berlokasi di Kabupaten Bintan.

Selanjutnya beras tadi dimasak menjadi nasi untuk dia konsumsi sendiri.

Produksi padi tersebut memang masih dalam skala kecil, tapi dalam hal ini Ady membawa optimisme sekaligus ingin membuktikan bahwa padi bisa hidup dan tumbuh di Kota Tanjungpinang yang notabane bekas lahan tambang bauksit.

Tujuan Ady menanam padi di rumahnya yaitu untuk mengenalkan kepada anak-anaknya, hingga masyarakat luas, bahwa nasi yang dimakan hari ini adalah berasal dari padi yang ditanam oleh petani dengan tetesan keringat dan kerja keras.

“Saya juga mengajak pemerintah daerah membuat gerakan menanam padi di pekarangan rumah hingga lahan-lahan tidur, supaya kita tidak tergantung dengan beras impor,” pungkasnya. (Ham)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *