EKONOMI KEPRI TANJUNGPINANG

Vnews.click, Tanjungpinang – Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) kerupuk olahan Kyria Rezeki di Kota Tanjungpinang berkomitmen mempertahankan kualitas produknya di tengah kenaikan sejumlah bahan pokok utama penopang produksi.

Owner CV Kyria, Rezeki Bonak Candra, mengaku kenaikan harga barang seperti gas lpg nonsubsidi, minyak goreng hingga kantong plastik belakangan ini, memang berdampak pada peningkatan operasional produksinya.

“Kami tetap berproduksi seperti biasa, tak ada penurunan kualitas produk, cita rasanya juga tetap terjaga. Hanya saja, konsekuensinya omzet jadi turun, tapi masih untung,” kata Bonak di kantor CV Kyria Rezeki, Selasa (7/7/2026)

Bonak mencontohkan saat ini harga bahan baku seperti gas lpg nonsubsidi 50 kilogram yang biasa digunakan untuk usahanya itu naik dari kisaran Rp800 ribu jadi Rp1 juta lebih.

Demikian pula, harga kantong plastik untuk kemasan kerupuk olahan Kyria Rezeki turut mengalami kenaikan dari kisaran Rp24 ribu jadi Rp52 ribu per kilogram.

Ia dapat memaklumi kenaikan harga barang-barang tersebut sebagai dampak kondisi global yang memengaruhi ekspor pasokan bahan baku energi maupun plastik dari luar negeri ke tanah air.

“Semoga konflik global lekas mereda, sehingga harga barang penunjang usaha (UMKM) kembali stabil,” ujar dia.

Bonak mengutamakan kualitas produk usahanya agar tetap relevan dan diterima masyarakat. Ia menjamin produksi kerupuk olahan Kyria Rezeki menerapkan standar operasional prosedur (SOP) sesuai anjuran pemerintah.

Para karyawan yang bekerja, mulai dari proses mengolah bahan baku, lalu menggoreng, sampai akhirnya jadi kerupuk yang dikemas dalam bentuk plastik kemasan, menggunakan penutup kepala, sarung tangan, masker dan celemek.

“Tujuanya untuk mencegah kuman dan kotoran mencemari produk kerupuk,” ungkapnya.

Mulai dirintis sejak 1982, kerupuk olaha Kyria Rezeki kini semakin berkembang dengan mempekerjakan 22 orang karyawan.

Produk-produk menyebar di berbagai warung kelontong, toko sampai swalayan, khususnya di Kota Tanjungpinang. Sebagian lainnya diekspor secara rutin ke Singapura, menggunakan kontainer dari Kota Batam.

Kerupuk olahan bahan ikan, udang, dan gonggong (makanan khas laut) Tanjungpinang itu dijual Rp6.500 sampai Rp25.000 per bungkus. Omzetnya per tahun bisa mencapai Rp3 miliar. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *