Tanjungpinang (Vnews.click) – Warga Kelurahan Kampung Bugis, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), menggelar makan bersama bubur asyura dalam rangka memperingati 10 Muharram tahun 2023, Jumat.
Sesuai dengan maknanya, kata Asyura diambil dari bahasa Arab yang artinya hari kesepuluh Muharram.
Kegiatan semacam ini sudah menjadi tradisi tahunan warga sekitar sebagai warisan nenek moyang sejak zaman dahulu.
Bubur asyura dimasak secara bergotong-royong menggunakan kawah besar.
Makanan olahan beras dengan tekstur lembut dan lunak itu dicampur 40 bahan pelengkap, mulai dari aneka sayur kangkung, pucuk paku, wortel kentang, buncis, kacang hijau, kacang tanah, kacang panjang, keledek/ubi jalar, keladi, ayam hingga kerang.
Panitia memasak lebih kurang 10 kilogram bubur asyura untuk disantap bersama ratusan penduduk sekitar.
Juru masak, Burhan, menyebut proses memasak bubur asyura hingga matang membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam.
Burhan dibantu sejumlah warga lainnya secara bergantian mengaduk bubur di dalam kawah, menggunakan sendok logam.
Setelah masak, bubur asyura lalu dimasukkan ke dalam wadah panci berukuran sedang hingga besar untuk dihidangkan kepada warga.
Namun sebelum itu, mereka terlebih dahulu membacakan doa selamat kepada Allah SWT yang dipimpin oleh seorang pembaca doa.
Sesudahnya, masing-masing warga dengan sendirinya langsung mengambil hidangan bubur asyura menggunakan mangkok plastik untuk dimakan bersama-sama.
Acara ini dipusatkan di rumah makan makan laut Mirnasyari, milik warga Kampung Bugis yang letaknya berada di kawasan pesisir laut.
Suasana akrab diselingi canda tawa begitu indah dipandang mata, ketika ratusan warga itu tampak sangat menikmati sajian bubur asyura.
Warga datang silih berganti untuk menyantap bubur asyura, mulai dari berbagai anak-anak, remaja hingga orangtua. Panitia memang tidak membatasi warga. Siapapun yang datang beri bubur Asyura selama masih tersedia.
Tak ada sekat di antara mereka, semua terlihat kompak satu sama lain.
Bagi masyarakat yang tidak sempat hadir, juga mendapat kiriman bubur asyura dari tetangga mereka yang kebetulan hadir di lokasi makan bersama bubur asyura.
Sebagian disisakan untuk buka puasa bersama di masjid bagi warga yang melaksanakan puasa sunat di hari asyura atau 10 Muharram.
Warga sangat senang dan bersyukur dapat menikmati bubur asyura secara gratis sembari berharap agar kegiatan itu dapat terus dilestarikan setiap tahunnya.
Wujud rasa syukur
Makan bersama bubur asyura di Kampung Bugis merupakan salah satu wujud rasa syukur warga atas limpahan rezeki, kesehatan, keselamatan hingga umur panjang yang telah dianugerahkan Allah SWT terhadap penduduk setempat.
Selain itu, ianya juga dimaksud untuk menjauhkan Kampung Bugis dari segala marabahaya dan musibah.
Di sisi lain, kegiatan itu pun dapat mempererat sekaligus meningkatkan tali silaturahmi antarsesama warga sehingga dapat membangkitkan nilai-nilai sosial dan semangat gotong royong.
Jika dirujuk menurut sejarah atau asal-usulnya, bubur asyura sudah ada sejak masa Nabi Nuh kala bersama kaumnya yang beriman selamat dari banjir besar dengan menaiki perahu.
Dihikayatkan, bahwa tatkala perahu Nabi Nuh a.s. sudah berlabuh (siap digunakan) pada hari ‘asyuro, beliau berkata kepada kaumnya, “kumpulkanlah semua perbekalan yang ada pada diri kalian!” Lalu beliau menghampiri (mereka) dan berkata, “(ambillah) kacang fuul (semacam kedelai) ini sekepal dan ‘adas (biji-bijian) ini sekepal, dan ini dengan beras, dan ini dengan gandum dan ini dengan jelai (sejenis tumbuhan yang bijinya/buahnya keras dibuat tasbih)”.
Kemudian Nabi Nuh berkata, “masaklah semua itu oleh kalian!, niscaya kalian akan senang dalam keadaan selamat”.
Dari peristiwa ini maka kaum muslimin (terbiasa) memasak biji-bijian. Kejadian di atas merupakan praktik memasak yang pertama kali terjadi di atas muka bumi setelah kejadian topan, dan juga peristiwa itu dijadikan inspirasi sebagai kebiasan setiap gari ‘asyuro.
Sejak itu, tradisi memasak bubur asyura dilakukan oleh umat muslim di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia.
Ketua panitia, Hasan, mengatakan tradisi memperingati hari asyura juga merujuk pada sejarah Islam.
Banyak kejadian pada 10 Muharam, di antaranya hari penciptaan alam semesta, hari saat Nabi Nuh diselamatkan dari banjir bandang, hari saat Nabi Musa melintasi laut Merah terbelah ketika dikejar tentara Fir`aun.
Pada hari asyura juga, Nabi Ibrahim selamat dari pembakaran oleh Raja Namrud, serta hari saat Nabi Yunus keluar dari perut ikan. (Redaksi)

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

