Tanjungpinang (Vnews.click) – Gubernur Kepri, Ansar Ahmad meminta orangtua mengawasi pergaulan anak-anaknya guna mencegah aktivitas negatif yang belakangan marak terjadi di kalangan remaja, salah satunya perang sarung di bulan Ramadhan.
Ansar menyebut perang sarung berpotensi menimbulkan korban hingga tawuran yang lebih luas, sehingga bisa mengganggu kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat saat Ramadhan.
“Saya heran, anak-anak itu belajar dari mana perang sarung. Terlalu kreatif, tapi di sisi lain cukup berbahaya bagi keselamatan mereka,” kata Gubernur Ansar di Dompak, Senin (18/3/2024).
Ansar justru menyarankan orangtua agar mengarahkan anak-anak mereka untuk memperbanyak amal saleh bulan Ramadhan, misalnya mendengar tausiyah agama, membaca al-quran hingga salat berjemaah di masjid.
Selain itu, ia juga mengimbau dinas pendidikan melalui masing-masing satuan pendidikan berperan aktif mengontrol kegiatan siswa/siswi agar jangan sampai terlibat perang sarung.
Perang sarung merupakan jenis tawuran yang memakai alat berupa kain sarung yang diikat pada bagian ujungnya yang diisi dengan batu, gir motor atau senjata tajam yang biasanya dilakukan pada bulan Ramadan.
“Bayangkan, kalau sarung itu diisi dengan batu atau senjata tajam, otomatis bisa melukai anak-anak kita. Sebelum itu terjadi, perlu dilakukan upaya pencegahan bersama,” ujar Ansar.
Secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kepri Andi Agung menyatakan seluruh satuan pendidikan telah membentuk badan penanganan pencegahan dan kekerasan (BPPK). Tujuannya antara lain mengontrol sekaligus mencegah anak-anak melakukan perang sarung pada momentum Ramadhan.
Ia meminta BPPK memberikan sanksi disiplin bagi anak-anak yang terlibat perang sarung, seperti membersihkan kamar mandi atau salat tarawih di masjid.
Sejauh ini, pihaknya sudah menerima laporan kejadian perang sarung di Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang. Selain melibatkan pelajar, ada pula anak-anak lulusan SMA yang terlibat perang sarung.
“Kita sudah minta BPPK berkoordinasi dengan kepolisian untuk mencegah perang sarung,” ujar Andi.
Sementara di Kabupaten Bintan, aparat kepolisian setempat telah mengamankan tujuh orang remaja usia 15-17 tahun yang melakukan perang sarung. Tepatnya di Kampung Sari Mulyo, Kelurahan Sungai Lekop, Kecamatan Bintan Timur Kabupaten, Sabtu (16/3) malam.
Polisi menemukan sarung yang sudah diikat dan dililit, bahkan ada sebagian sarung sudah diisi batu untuk digunakan sebagai alat perang sarung
Mereka diamankan di Polsek Bintan Timur guna dilakukan pembinaan dan membuat pernyataan tertulis tidak mengulangi melakukan perang sarung. Hingga waktu Imsak tiba, ketujuh remaja tersebut akhirnya dipulangkan ke rumah orangtuanya.
“Tindakan ini kita ambil untuk melindungi anak-anak dari bahaya perang sarung, tapi alau mereka mengulangi perbuatan serupa, akan kita tindak tegas,” kata Kasi Humas Polres Bintan Iptu Missyamsu Alson. (Redaksi)

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

