KEPRI TANJUNGPINANG TEKNOLOGI

Tanjungpinang (Vnews.click) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), siap berkolaborasi mengembangkan tanaman padi yang dipelopori oleh Ady Indra Pawennari, warga Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

“Kami dari tim peneliti BRIN, siap berkolaborasi dengan Pak Ady untuk melakukan kajian lebih detail. Harapannya bisa menjadi model untuk implementasi lebih lanjut,” kata Tim Peneliti Mikrobiom Nutrisi dan Proteksi Tanaman, Pusat Mikrobiologi Terapan BRIN, Sarjiya Antonius dihubungi dari Tanjungpinang, belum lama ini.

Peneliti senior BRIN ini mengaku sudah lama mengenal Ady Indra Pawennari yang populer dengan inovasinya di bidang pertanian dengan memanfaatkan cocopeat atau serbuk sabut kelapa sebagai media tanam di lahan tandus dan pasca tambang.

Menurutnya keberhasilan Ady Indra Pawennari menanam padi di lahan bekas tambang bauksit di Tanjungpinang tak lepas dari inovasi cocopeat yang dikembangkannya selama ini.

“Cocopeat bisa berperan penting dalam menjaga kondisi biokimia tanah,” ujarnya.

Dia menyebut bahwa cocopeat yang memiliki keunggulan dalam menyimpan air sehingga tanah yang kering bisa menjadi lebih lembab dapat meningkatkan biodiversitas mikroba menguntungkan seperti mikroba pemacu pertumbuhan tanaman (PGPR).

“Jadi, cocopeat ini juga bisa berperan menginduksi ketahanan terhadap stres lingkungan dan serangan organisme pengganggu tanaman,” jelasnya.

Ady Indra Pawennari sukses bercocok tanam padi di pekarangan belakang rumahnya di Jalan Nusantara, Kilometer 15, Kota Tanjungpinang. Padi ditanam di atas lahan seluas sekitar 4×9 meter dengan dibuat dua petak terpisah, masing-masing petak berukuran 2×9 meter.

Pria akrab disapa Asy itu mulai uji coba pertama menanam padi pada Agustus 2022 dengan varietas padi ketan hitam dan panen perdana pada Desember 2022.

Setelah itu, ia kembali menanam padi pada awal Maret 2023, namun dengan jenis yang berbeda, yakni varietas CL 220.

Kini tanaman padi itu sudah setinggi pinggang orang dewasa. Biji padinya terlihat menyembul dari pohonnya. Merunduk, dengan bulir isinya yang terlihat gemuk.

Varietas padi yang dipesan dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, itu ditargetkan panen pada Juni 2023. Potensi produksi dari varietas padi CL 220 ini mencapai 13 ton per hektare.

Hasil panen padi tersebut akan diolah menjadi beras, lalu dimasak menjadi nasi untuk konsumsi sendiri.

“Mungkin sekitar lima hari lagi sudah panen. Masih menunggu mesin penggiling padinya,” sebut Ady.

Produksi padi milik memang masih dalam skala kecil, namun ia membuktikan bahwa padi bisa hidup dan tumbuh subur di Kota Tanjungpinang yang struktur tanahnya keras dan berbatu. (Ham)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *