Tanjungpinang (Vnews.click) – Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RSUD Kota Tanjungpinang, Guptaja Kusumah Negara, menyampaikan sebagian besar pasien yang datang berobat ke poli penyakit dalam di rumah sakit tersebut menderita diabetes.
“Untuk di Tanjungpinang, angka penderita diabetes tergolong tinggi,” katanya, Rabu (15/11/2023).
Ia mengatakan ada tiga gejala klinis paling khas atau disebut Trias Klasik penyakit diabetes.
Gejala pertama, polidibsi yaitu sering merasa haus atau ingin minum secara berkala.
Kemudian poliuria yaitu sering ingin buang air kecil, terutama pada malam hari sehingga menggangu waktu tidur. Kalau orang normal di malam hari, cuma terbangun sekali ke kamar mandi. Tapi pasien diabates, bisa tiga sampai emoat kali ke kamar mandi.
Berikutnya, polifagia yaitu sering merasa lapar padahal baru selesai makan.
“Kalau sudah cukup lama, biasanya ada gangguan saraf terutama saat bangun tidur, seperti otot keram ditambah kebas,” ujarnya.
Ia menyarankan agar warga segera melakukan pemeriksaan ke dokter jika mulai mengalami gejala diabates agar bisa ditangani lebih lanjut.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), mengingatkan jumlah kasus penyakit diabetes secara nasional meningkat tajam, mencapai 35 juta orang atau 13 persen dari total jumlah penduduk 280 juta orang.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kepri, Mochammad Bisri, angka tersebut melewati prediksi Kementerian Kesehatan RI, yang sebelumnya menyebut jika penderita diabates di Indonesia bisa mencapai 30 juta orang pada tahun 2030.
“Sementara, sekarang saja sudah ada 35 juta penderita diabetes di Indonesia,” kata Bisri di Tanjungpinang.
Bisri menyebut hampir semua provinsi di Indonesia mengalami tren kenaikan kasus diabates. Termasuk di wilayah Kepri yang jumlahnya diperkirakan mencapai 250 ribu orang penderita maupun berisiko diabetes, dari total jumlah penduduk sekitar 2,5 juta orang.
Ia menyampaikan bahwa penyakit diabetes dipicu beberapa faktor, antara lain faktor genetik atau keturunan, di mana ada gen yang diturunkan orangtua ke anak hingga menyebabkan si anak menderita diabetes.
Kemudian, faktor gaya hidup seseorang yang tidak sehat, seperti banyak mengonsumsi makanan olahan tinggi kalori dan lemak.
Selain itu, bisa juga karena kurang gerak atau aktivitas olahraga yang menyebabkan seseorang mengalami obesitas hingga berpotensi menderita diabetes.
“Dari sepuluh orang penderita diabetes, satu orang di antaranya dipicu faktor keturunan,” ungkap Bisri.
Bisri menyampaikan saat ini diabetes menjadi konsen pemerintah pusat hingga daerah, karena meskipun tidak masuk jenis penyakit menular, tapi angka penderitanya sangat tinggi. (Redaksi)

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

