EKONOMI KEPRI PEMERINTAHAN TANJUNGPINANG UPDATE

Tanjungpinang (Vnews.click) – Pemko Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), menyebut angka inflasi di daerah itu masih terkendali meski terjadi kenaikan harga bahan pokok masyarakat seperti beras.

Penjabat (Pj) Wali Kota Tanjungpinang, Hasan, mengatakan, angka inflasi terakhir periode bulan September 2023 turun menjadi 1,53 persen, dibanding kondisi Agustus 2023 yang sebesar 2,04 persen.

“Hal ini menandakan pemkot masih bisa mengendalikan harga bahan pokok,” kata Hasan di Tanjungpinang, Selasa (10/10/2023).

Hasan mengakui saat ini harga bahan pangan beras, khususnya beras premium di pasaran tengah naik Rp1.500 per kilogram hingga Rp2.000 per kilogram. Beras menjadi salah satu penyumbang utama inflasi di pusat ibukota Provinsi Kepri tersebut.

Kenaikan harga beras premium, kata Hasan, memang tidak bisa dielakkan karena dipengaruhi perubahan cuaca yang memicu penurunan produksi padi di daerah sentra penghasil, seperti Pulau Jawa.

Persoalan serupa juga terjadi secara nasional bahkan global, akibat adanya kebijakan sejumlah negara memilih stop ekspor beras, seperti India, Thailand, dan Vietnam.

Apalagi kondisi Tanjungpinang yang bukan sebagai kawasan penghasil pertanian, sangat bergantung dengan distribusi beras dari daerah lain, sehingga rentan naik apabila stok berkurang.

“Kita pastikan hingga Natal dan Tahun Baru 2024, stok beras di Tanjungpinang cukup, tinggal bagaimana menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat,” ucap Hasan.

Lanjut Hasan menyampaikan pihaknya gencar menggalakkan program selamatkan pangan, di mana warga didorong supaya lebih berhemat dan tidak mubazir dalam mengkonsumsi beras yang sudah diolah jadi nasi.

“Makanlah sesuai porsi. Jangan mubazir,” ujar dia.

Di samping itu, pemkot menggalakkan masyarakat agar gemar menanam komoditas bahan pangan di pekarangan rumah, minimal untuk kebutuhan sehari-hari, contohnya cabai dan sayur-mayur. 

Seperti halnya beras, komoditas cabai dan sayur-mayur di Tanjungpinang juga sangat tergantung dari daerah lain, seperti Medan.

Hasil pertanian di Tanjungpinang hanya mampu memenuhi sekitar lima persen untuk pasokan komoditas pangan lokal.

“Dengan adanya keinginan warga menanam bahan pangan sendiri, maka laju inflasi dapat terus ditekan,” pungkas Hasan. (Lus)
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *