Tanjungpinang (Vnews.click) – Karantina Pertanian Tanjungpinang mencatat ekspor produk olahan kelapa dari PT BOF yang terletak di Kawasan Industri Bintan, Kecamatan Seri Kuala Lobam, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri) tahun 2022 meningkat 123 persen.
“Pada tahun 2021, periode Januari-Oktober ekspor produk olahan kelapa sebanyak 21 kali. Sementara di tahun 2022 sudah 47 kali di periode yang sama atau terjadi peningkatan frekuensi sebesar 123 persen,” kata Kepala Karantina Pertanian Tanjungpinang Raden Nur Cahyo Nugroho, Selasa (15/11/2022).
Raden menjelaskan peningkatan frekuensi ekspor sebesar 123 persen tersebut menyumbang peningkatan nilai ekonomi ekspor sebesar 159 persen atau setara dengan perbandingan Rp7,6 miliar pada 2021 menjadi Rp19,9 mliiar pada 2022.
Menurutnya peningkatan frekuensi ekspor produk olahan kelapa sebanding dengan peningkatan volume sebesar 42 persen dengan rincian 535,6 ton di tahun 2021 dan 764 ton di tahun 2022.
Adapun produk olahan kelapa yang diminati pasar luar negeri adalah: santan, air kelapa, minyak kelapa murni tanpa pemanasan hingga sabut kelapa.
“Frekuensi ekspor yang meningkat tajam tersebut tidak seluruhnya produk komersil, sebagian adalah pengiriman produk untuk pameran dan contoh produk,” ungkapnya.
Ia menyatakan hal ini menandakan bahwa produk olahan kelapa di Bintan semakin diminati pasar luar negeri.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian, katanya, terus mendorong dan memfasilitasi eksportir untuk dapat meningkatkan produksi dan inovasi, guna memenuhi permintaan pasar luar yang semakin tinggi.
Agresif dan militan itu adalah teknik pemasaran yang terus dilakukan untuk mendapatkan pasar baru di luar negeri.
Karantina Pertanian Tanjungpinang selalu memfasilitasi sertifikasi apa pun tujuan ekspornya. Terbukti dengan pengiriman sampel dan mengikuti pameran di luar negeri, produk olahan kelapa Bintan mampu menembus empat negara baru tujuan ekspor, yaitu: Amerika, Perancis, Malaysia dan Inggris.
Raden Nurcahyo Nugroho menyampaikan pihaknya memberikan layanan AkTif Ekspor untuk eksportir komoditas pertanian, merupakan layanan ‘karpet merah’ untuk eksportir,”
Layanan AkTif Ekspor adalah layanan antar kirim sertifikat ekspor komoditas pertanian ke tempat eksportir, dengan layanan ini eksportir tidak perlu datang dan antri di kantor pelayanan. Layanan ini merupakan wujud dari layanan eksklusif bagi eksportir dan sesuai dengan point Berorientasi Pelayanan pada core value ASN Berakhlak.
Jenis produk olahan kelapa yang mendominasi pasar ekspor adalah santan. PT BOF telah mengekspor 645 ton santan menuju beberapa negara, sedangkan untuk produk kelapa parut kering sudah 147 ton di tahun ini. Frekuensi dan volume ekspor akan terus meroket tahun ini, karena di bulan November sudah terjadi 7 kali ekspor untuk produk santan.
Ekspor komoditas pertanian yang terus meningkat merupakan upaya meningkatkan perekonomian Indonesia. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Menteri Pertanian bahwa Gerakan tiga kali lipat ekspor (GraTiEks) komoditas pertanian, akan menciptakan jutaan lapangan pekerjaan, baik on farm maupun off farm.
“pengolahan komoditas pertanian pasca panen terbukti meningkatkan nilai ekonomi dan menyerap tenaga kerja,” pungkasnya.
Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian, Bambang, menyampaikan, “Karantina telah memiliki layanan Klinik Ekspor di seluruh UPT Karantina, layanan ini untuk memfasilitasi calon eksportir agar dapat memenuhi persyaratan ekspor, sehingga seluruh produk yang diekspor bisa diterima di negara tujuan.”
Layanan AkTif Ekspor dan Klinik Ekspor yang telah diterapkan Karantina Pertanian Tanjungpinang akan terus mengawal dan memfasilitasi eksportir. Dengan harapan ekspor komoditas pertanian akan terus meningkat dan mampu membantu pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19. (Ham)

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

