KEPRI PENDIDIKAN TANJUNGPINANG

Tanjungpinang (Vnews.click) – Semangat gelora literasi digaungkan Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, dengan melakukan safari keliling gemar membaca nasional di pulau-pulau yang ada di Provinsi Kepri, mulai dari Pulau Bintan, Lingga, Karimun, hingga Anambas.

Ia melakukan aksi blusukan itu guna memotivasi sekaligus memberitahu langsung kepada anak-anak pulau agar membudayakan kegemaran membaca serta memberikan pelatihan menulis.

Gol A Gong meneruskan tongkat estafet Duta Baca Indonesia sebelumnya, Tantowi Yahya, Andi F Noya, dan Najwa Shihab, yang berhasil menanamkan imej bahwa orang-orang sukses seperti mereka berawal dari membaca.

Penulis Novel “Balada Si Roy” itu pun mengingatkan generasi muda bahwa Bahasa Indonesia berasal dari Provinsi Kepri. Persisnya di Pulau Penyengat, tempat lahirnya Pahlawan Nasional yang juga Bapak Bahasa Indonesia, Raja ali Haji.

Harapannya ke depan lahir lebih banyak lagi pewaris Raja Ali Haji dari yang sudah ada saat ini, seperti sastrawan Melayu Rida K Liamsi hingga Sutardji Calzoum Bahari.

Dalam kesempatan yang sama, pendiri “Rumah Dunia” ini menghibahkan ratusan kilogram buku bacaan untuk menambah koleksi bahan bacaan anak-anak pulau di daerah itu.

Gol A Gong turut menegaskan sudah bukan masanya Indonesia dibelenggu penghakiman dari negara lain yang kerap menyebut minat baca warga kita masih rendah.

Stigma seperti itu sudah tidak relevan, karena sekarang minat baca generasi muda atau kaum milenial di Tanah Air makin meningkat seiring perkembangan dunia digital, yang mana anak-anak mulai hobi membaca media digital dibanding media konvensional seperti koran.

Di sisi lain, sebagai duta baca yang sudah dua tahun berkeliling Indonesia, Gol A Gong menemukan setidaknya tiga masalah utama kenapa minat baca warga Indonesia kerap dicap rendah oleh negara lain.

Masalah pertama, kepala dinas perpustakaan di tingkat daerah kabupaten/kota hingga provinsi kurang termotivasi dalam menumbuhkan semangat literasi warga, sebab merasa dibuang atau dimutasi ke dinas yang tidak “basah”, seperti Dispenda atau Bappeda.

Kedua, masyarakat terutama di perkampungan masih kesulitan mengakses perpustakaan. Namun, belakangan pemerintah sudah mulai membangun perpustakaan di kampung-kampung, misalnya di Kabupaten Lingga dapat dana alokasi khusus (DAK) pembangunan perpustakaan.

Ketiga, distribusi buku belum merata terutama di daerah Timur. Oleh karenanya semua stakeholder terkait, mulai dari masyarakat, mahasiswa, pejabat, hingga akademisi supaya bahu-membahu memberikan bantuan buku bacaan untuk mendorong budaya membaca maupun menulis bagi semua lapisan masyarakat.

Terakhir, lewat safari keliling gemar membaca diharapkan dapat merubah stigma bahwa perpustakaan bukan hanya gudang buku, tapi bisa menjadi ruang publik yang berfungsi melakukan interaksi dan aktivitas seperti pemberdayaan masyarakat, sehingga bermuara pada peningkatan perekonomian masyarakat pula, khususnya di “Bumi Segantang Lada”, Provinsi Kepri. (Lus)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *