Sekretaris Komisi II DPRD Kepri Wahyu Wahyudin menyebut Kepri yang 96 persen wilayahnya berupa kelautan sangat potensial untuk dijadikan kawasan percontohan budidaya lobster di Indonesia, ditambah posisinya berada di perbatasan negara sehingga lebih memudahkan proses ekspor produk tersebut.
“Kami berharap ada anggaran khusus untuk pelatihan hingga pendampingan budidaya lobster, terutama di Kepri,” kata Wahyudin di Tanjungpinang, Sabtu (2/11/2024).
Wahyudin optimistis kegiatan budidaya lobster dapat menambah pendapatan negara melalui penerimaan negara bukan pajak atau PNBP. Lobster merupakan prioritas perikanan budidaya, selain udang dan rumput.
Ia menyebut pemerintah bisa menggaet investor swasta ataupun perusahaan plat merah untuk mengembangkan budidaya lobster di Kepri, namun tetap melibatkan nelayan lokal sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan mereka.
“Nelayan lokal harus diberdayakan dengan harapan mereka bisa budidaya lobster sendiri agar semakin sejahtera,” ujarnya.
Wahyudin turut mengapresiasi pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI telah meresmikan modeling budidaya lobster di Batam. Modelling ini mengisyaratkan keseriusan pemerintah untuk menjadikan lobster sebagai salah satu komoditas penting perikanan Indonesia.
“Pembangunan modeling ini merupakan salah satu strategi pemerintah untuk memperkuat peran Indonesia dalam pengelolaan lobster. Beberapa hal yang selama ini menjadi kelemahan dalam pembudidayaan lobster akan diperbaiki melalui program ini,” ujarnya.
Sementara, Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP RI Tb Haeru Rahayu menyampaikan Batam merupakan daerah sumber pakan yang sangat mendukung untuk budi daya lobster. Ini jadi salah satu kunci kesuksesan dari suatu proses budi daya.
“Batam dipilih sebagai lokasi model percontohan budidaya lobster, karena dianggap mempunyai kesiapan dari sisi pakan lobster,” katanya.
Menurutnya pembangunan modeling budi daya lobster di Batam dilaksanakan dalam rangka pembangunan kawasan percontohan budidaya lobster yang terintegrasi antara hulu yang meliputi kerangkeng pembesaran, kawasan budidaya kekerangan untuk pakan, lalu hilir meliputi gudang beku, dan unit pengolah lobster.
Ia berharapan dengan dibangunnya kawasan percontohan budidaya lobster di Batam dapat meningkatkan produktivitas, lalu diseminasi teknologi budidaya lobster, peningkatan jumlah ekspor lobster, peningkatan penyerapan tenaga kerja, kesejahteraan pembudidaya, serta pertumbuhan ekonomi wilayah dan meningkatkan pajak dan PNBP.
“Peran pemerintah daerah sangat diperlukan guna mendukung program pemerintah dalam hal pengembangan budidaya lobster, baik dari pengelolaan benih maupun pembesaran lobster,” ucap Tebe. (Red)

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

