TANJUNGPINANG (VNEWS.click) – Akhir tahun 2019, dunia dikejutkan dengan serangan virus nCoV atau dikenal dengan Novel Coronavirus di kota Wuhan, Tiongkok. Kemudian virus ini mulai menyebar ke belahan dunia di tahun 2020.
Ketika awal diketahui adanya wabah virus corona, pemerintah Tiongkok langsung mengambil langkah melockdown kota ini, agar virus tidak menyebar ke tempat lain. Mulai saat itulah terjadi perubahan di muka bumi ini. Pola kehidupan manusia tidak bisa lagi normal. Ekonomi dunia terpelosok.
Hal ini juga di rasakan di Indonesia, khususnya kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Semua masyarakatnya terpaksa harus siap menghadapi serangan wabah ini. Apalagi ketika sudah ada yang terpapar covid-19 hingga menyebabkan kematian.
Semua orang ketakutan hingga memborong perlengkapan masker, handsanitizer, hingga sabun cuci tangan. Kemudian mereka memilih tidak keluar rumah untuk menghindar dari virus ini. Aktifitas perkantoran pun terpaksa dilaksanakan dengan pola work from home. Lalu tidak ada lagi kegiatan yang menyebabkan keramian, karena wabah ini sudah menjadi pandemi. Semua masyarakat harus jaga jarak, menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga imun tubuh.
Akibat ini semua, pola kehidupan pun harus berubah mengikuti pandemi covid-19, seperti yang dirasakan Selvia (29) dan keluarganya. Untuk mengisi waktu yang biasa digunakan bepergian, kini diganti dengan menanam tanaman hias.
Sejak awal pandemi covid-19, hingga saat ini sudah ada 32 jenis tanaman hias yang terpajang di teras rumah di jalan D.I Panjaitan Kilometer 7 Gang Putri Mekar Sari Nomor 3. Mulai dari tanaman Diegfenbachia Green Magic, Diefenbachia Sublime, Sente Varigata, Philedendron Selloum, Alocasia, Keladi Ace Of Heart, Keladi Bercak Darah, Keladi Putih (White Caladium), Keladi Liliput, Keladi Redstar, Sirih Gading, Keladi Hitam, Aglonema Kochin, Aglonema Lipstik, Syngonium, Calathea Tricolor, Ekor naga dan jenis yang lainnya.
“Semua tanaman ini di dapat dari tempat jual bunga yang ada di Tanjungpinang. Setiap hari libur, kami datangi setiap tempat jual tanaman hias. Jika cocok, langsung beli,” ujarnya.
Masih kata Selvia, jika dapat tanaman hias yang dicari, dirinya bersama ibunya langsung membeli pot bunga warna putih dan tanah hitam. “Kami belinya disesuaikan dengan tanamannya yang ada. Jadi jika ada tanaman baru, baru mencari pot dan tanah hitam,” terangnya.
Untuk harga tanaman hias yang diburu Selvia, masih masuk kategori terjangkau. Mulai dari Rp25 ribu hingga Rp 100 ribu. “Namanya juga baru belajar menanam tanaman hias, jadi pilih yang murah-murah saja dulu. Sayangkan kalau beli mahal-mahal, terus nanti tanamannya mati,” kata ibu satu orang anak ini.
Dalam mencari tanaman hias tersebut, Selvia dan keluarganya pernah miliki pengalaman menarik. Mereka mendapat alamat penjual bunga di kota Kijang. Lalu mereka menuju alamat tersebut. Namun sayangnya meski sudah bertanya ke warga setempat, namun tidak ketemu.
Selvia mengaku tidak semua koleksi tanaman hias berasal dari membeli, sebagian justru didapatkan secara cuma-cuma. Meski demikian, dirinya tak ingin menjual tanaman tersebut, jika sudah tumbuh besar. Semua yang ia lakukan hanya untuk hobi barunya dan mengisi keindahan di rumah.(Mat/Red)

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

