VNews.click, Jakarta – Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani mengapresiasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan skrining kesehatan fisik dan jiwa terhadap 10.564 peserta Program Internship Dokter Indonesia atau PIDI.
Namun menurut politikus PKS itu, pemerintah tidak boleh berhenti pada pemeriksaan individu dokternya saja, juga harus mengevaluasi secara menyeluruh sistem dan lingkungan wahana penugasan.
Netty menilai skrining Internship sangat penting untuk memastikan para dokter muda berada dalam kondisi prima sebelum diterjunkan ke berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di daerah.
Pemeriksaan fisik dan mental ini, lanjutnya, bukan sekadar bentuk perlindungan bagi para tenaga medis, namun juga bagian dari upaya menjaga keselamatan pasien dan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
”Pemeriksaan kesehatan ini jangan hanya menjadi formalitas administratif. Hasil skrining harus dijadikan dasar untuk menentukan kesiapan, kebutuhan pendampingan, hingga penyesuaian lokasi penugasan bagi peserta yang memiliki kondisi kesehatan tertentu,” kata Netty, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (15/8/2026).
Ditegaskannya, perhatian terhadap kesehatan jiwa para peserta PIDI sangat penting. Dokter muda yang menjalani masa internship sering dihadapkan pada tekanan profesional yang berat, adaptasi lingkungan baru, dan tuntutan pelayanan yang tinggi.
Oleh karena itu, ia mendorong agar hasil skrining kesehatan mental ditindaklanjuti dengan penyediaan fasilitas konsultasi dan pendampingan yang mudah diakses serta bebas dari stigma.
”Kesehatan mental harus diperlakukan setara dengan kesehatan fisik. Jangan sampai ada dokter yang terlihat sehat secara fisik, tetapi sebenarnya mengalami tekanan psikologis berat yang tidak terdeteksi,” tegasnya.
Netty jua meminta Kemenkes melakukan evaluasi mendalam terhadap kondisi wahana penugasan di lapangan mencakup beban kerja, jam kerja, pola supervisi dari senior, ketersediaan fasilitas penunjang, hingga mekanisme pelaporan jika peserta menghadapi kendala di tempat bertugas.
”Jangan cuma periksa dokternya, periksa juga sistemnya. Jika lingkungan kerjanya memiliki beban berlebihan, supervisi yang lemah, atau fasilitas terbatas, maka masalah tidak akan pernah selesai hanya dengan skrining kesehatan,” jelasnya.
Ia berharap momentum ini menjadi pijakan bagi pemerintah untuk merancang sistem internship yang lebih manusiawi, profesional, dan berorientasi pada keselamatan. “Melindungi keselamatan fisik dan mental para dokter merupakan modal utama dalam menciptakan pelayanan kesehatan yang optimal bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya.[Fas]

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

