Tanjungpinang (Vnews.click) – Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Ofy Sofiana, menghadiri acara Talkshow Literasi Anak dan Pelatihan Kepenulisan Bersama Duta Baca Indonesia, Heri Hendrayana Harris atau dikenal dengan nama pena Gol A Gong, di Gedung Daerah Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (25/7/2023).
Ofy Sofiana menyebut di dalam alenia keempat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, sangat jelas mengatur bahwa negara memiliki kewajiban mencerdaskan kehidupan berbangsa, karena bangsa yang cerdas berpeluang menjadi negara maju dan sejahtera.
Salah satu upaya mencerdaskan kehidupan berbangsa, ialah meningkatkan produk intelektual, berupa bahan bacaan.
“Kendati Indonesia saat ini masih menghadapi isu ketercukupan koleksi dan akses bahan bacaan yang belum merata dinikmati semua kalangan masyarakat,” kata Ofy Sofiana dalam sambutannya.
Oleh sebab itu, katanya, pemerintah melalui Perpusnas RI gencar melakukan safari gerakan nasional gemar membaca di seluruh wilayah Indonesia yang bertujuan membantu meningkatkan minat baca masyarakat, termasuk di Provinsi Kepri.
Selain itu, sejak tahun 2006, Perpusnas juga telah memilih promosi pembudayaan membaca dengan memilih Duta Baca Indonesia. Sosok yang dipilih adalah publik figur yang mempunyai tugas motivator dan pembudayaan membaca sekaligus mengajak masyarakat agar terlibat aktif dalam menumbuhkan semangat literasi. Mereka yang pernah menjadi Duta Baca Indonesia, di antaranya Tantowi Yahya, Andi F Noya, Najwa Shihab, dan sekarang Gol A Gong.
Indonesia memang sudah saatnya keluar dari penghakiman dunia tentang tingkat kegemaran membaca masyarakat yang relatif rendah.
Pasalnya, berdasarkan hasil kajian tahun 2020, Indonesia menduduki peringkat ke-16 dunia dalam hal kebiasaan membaca, dengan durasi lama membaca rata-rata 6 jam per minggu. Posisi Indonesia berada di atas Kanada, Jerman dan Amerika Serikat.
Kemudian hasil kajian tahun 2022, menyatakan tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia menunjukkan kenaikan menjadi 9 jam 56 menit per minggu, atau naik 3 jam 56 per minggu dibanding tahun 2020.
“Peningkatan itu membuktikan jika permasalahan yang dihadapi Indonesia bukan soal tingkat kegemaran membaca, tapi ketersediaan bahan bacaan itu sendiri,” ujarnya.
Makanya, lanjut dia, Perpusnas kini fokus mencari cara memperbanyak bahan bacaan di tengah-tengah masyarajat.
Di Provinsi Kepri, salah satu upaya memenuhi kebutuhan koleksi bahan bacaan masyarakat, dapat dilakukan dengan memproduksi bahan bacaan oleh masyarakat untuk masyarakat.
Produk bahan bacaan tidak hanya sebagai koleksi yang disimpan, tapi menjadi media sharing dan informasi, termasuk informasi terkait kearian lokal di Provinsi Kepri.
Buku mencerminkan peradaban bangsa, demikian pula buku tentang Provinsi Kepri, khusus menggambarkan tentang peradaban budaya di daerah tersebut.
Adapun masyarakat yang memiliki tanggung jawab lebih untuk menuliskan tentang Provinsi Kepri, adalah masyarakat di daerah itu sendiri.
“Pemerintah daerah ini memiliki kewajiban mendorong warganya untuk terus menulis, terlebih menulis kearifan lokal setempat,” sebutnya.
Perpusnas pun sangat mendukung segala bentuk upaya pemerintah daerah dalam rangka pemenuhan bahan bacaan, akses terhadap sumber infornasi dan produktifitas dalam menghasilkan karya intelektual berbasis konten lokal.
Provinsi Kepri dengan segala potensi yang dimiliki seperti nilai-nilai sejarah dan budaya, harus dapat terdokumentasi dalam bentuk buku agar dapat menjadi sumber pengetahuan bersama.
“Buku juga dapat memancing ide dan gagasan baru, sehingga masyarakat di Provinsi Kepri bisa terus berinovasi dalam memanfaatkan potensi yang ada melalui karya-karya yang dituangkan dalam bentuk sebuah buku,” pungkasnya. (Redaksi)

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

