KEPRI PEMERINTAHAN SOSIAL TANJUNGPINANG UPDATE

Tanjungpinang (Vnews.click) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri menyatakan jumlah penduduk miskin hingga bulan Maret 2024 sebanyak 138,30 ribu orang. Angka ini mengalami penurunan sebanyak 4,2 ribu orang dibandingkan bulan Maret 2023.

Sementara jika dibandingkan periode September 2022, penduduk miskin di Kepri turun sebesar 10,59 ribu orang.

Kepala BPS Kepri, Darwis Sitorus, mengatakan, penurunan penduduk miskin salah satunya dipicu keberhasilan pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan terkait dalam upaya mengendalikan angka inflasi di daerah tersebut.

Keberhasilan itu ditandai dengan penghargaan TPID Award 2024 yang diperoleh Pemprov Kepri dari Pemerintah Pusat sebagai provinsi berkinerja terbaik mengendalikan inflasi di wilayah Pulau Sumatera.

“Inflasi harus tetap dijaga supaya garis kemiskinan tidak naik, kalau semakin membengkak maka jumlah penduduk miskin akan bertambah,” kata Darwis, Rabu (1/7/2024).

Dirinya menyebut berdasarkan daerah tempat tinggal, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan mengalami penurunan dari Maret 2023 ke Maret 2024, yaitu dari 30,60 ribu orang (10,69 persen) menjadi 26,03 ribu orang (9,94 persen).

Sedangkan penduduk miskin di daerah perkotaan juga turun, yakni dari 111,90 ribu orang (4,85 persen) pada Maret 2023, menjadi 112,28 ribu orang (5,05 persen) pada Maret 2024.

Adapun garis kemiskinan per kapita di Kepri naik 6,02 persen, yaitu dari Rp742.526 per kapita per bulan pada Maret 2023, menjadi Rp787.211 per kapita per bulan pada Maret 2024.

Sementara pada periode September 2022-Maret 2023, garis kemiskinan juga mengalami kenaikan sebesar 1,65 persen.

“Garis Kemiskinan digunakan sebagai suatu batas untuk mengelompokkan penduduk menjadi miskin atau tidak miskin. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan,” ungkapnya.

Darwis menyampaikan komoditi makanan memberikan kontribusi terbesar terhadap garis kemiskinan di perkotaan pada Maret 2024 yaitu beras sebesar 13,76 persen, kemudian diikuti komoditi rokok kretek filter yang sebesar 9,77 persen, lalu daging ayam ras memberikan kontribusi terbesar ketiga terhadap garis kemiskinan, yaitu 6,25 persen.

Sementara untuk wilayah perdesaan, beras dan rokok kretek filter memberikan kontribusi terbesar terhadap garis kemiskinan, masing-masing sebesar 16,62 persen dan 16,42 persen.

“Komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan garis kemiskinan terbesar baik pada perkotaan dan perdesaan adalah perumahan, listrik, dan bensin,” pungkasnya. (Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *