VNews.click, Pontianak – Ketua Badan Kerja Sama Parlemen DPD RI Gusti Farid Hasan Aman, mengatakan Kalimantan Barat (Kalbar) memiliki potensi besar di bidang pendidikan, kebudayaan, dan ekosistem yang dapat dikembangkan melalui kerja sama internasional.
Hal itu dikatakan Gusti Farid di sela-sela Kunjungan dan Rapat Kerja BKSP DPD RI, dengan sejumlah pihak terkait, di Aula Arwana, Kantor Gubernur Kalimantan Barat, di Kota Pontianak, Kamis (3/9/2026).
“Kunjungan kerja ini ditujukan untuk menyusun potensi Provinsi Kalimantan Barat sebagai langkah konkret memperkuat sinergi pemerintah daerah dengan pemerintah pusat dalam mendorong pembangunan dan kerja sama internasional,” kata Gusti Farid.
Dijelaskannya, Kunker ini bagian dari agenda yang telah direncanakan setahun sebelumnya. “Bahkan BKSP DPD RI merencanakan membawa 34 Senator ke Kalimantan Barat pada Oktober/November 2026 untuk menindaklanjuti hasil diskusi ini,” ungkapnya.
Di acara yang sama, Wakil Ketua BKSP DPD RI Maya Rumantir, mengatakan potensi dan sektor unggulan Kalimantan Barat sudah komprehensif dan mencakup berbagai aspek relevan sebagai dasar menentukan langkah tindak lanjut.
“Pertemuan ini diharapkan dapat memberikan gambaran langsung mengenai potensi daerah, tantangan yang dihadapi, dan bentuk dukungan yang dibutuhkan untuk pengembangan daerah secara optimal,” kata Maya Rumantir.
Saat ini, lanjut Senator Maya Rumantir, Kalimantan Barat telah membangun kerja sama internasional dalam bidang investasi dan industri, riset dan inovasi, pendidikan dan pengembangan SDM, ekonomi kreatif dan UMKM, pariwisata, perdagangan, serta green and sustainable development.
“Kerja sama diharapkan tidak hanya membawa investasi, tetapi juga transfer teknologi dan pengetahuan, peningkatan kapasitas SDM, pengembangan inovasi, pembukaan akses pasar internasional, serta penerapan industri yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kalbar Linda Purnama, mengungkapkan bahwa ekonomi Kalimantan Barat tumbuh 5,39% pada tahun 2025 dan berlanjut pada triwulan II 2026 dengan pertumbuhan 5,61% (y.o.y), angka yang berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.
“Sektor tambang menjadi motor utama pertumbuhan, didorong oleh lonjakan hilirisasi produk non migas seperti bauksit,” kata Linda Purnama, kepada Delegasi BKSP DPD RI.
Dari sisi investasi, lanjutnya, realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) pada 2025 mencapai Rp51,04 triliun, melampaui target daerah. Capaian ini berdampak positif pada penyerapan tenaga kerja lokal dan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Ditegaskannya, Kalbar memiliki banyak komoditas berpotensi hilirisasi, antara lain kelapa sawit/CPO (oleofood, industri kimia, biodiesel), kelapa (minyak goreng, tepung kelapa, santan kemasan, arang/karbon aktif), kopi, kakao, buah-buahan tropis, tengkawang, dan hasil perikanan.
“Pengembangan fruit processing hub diarahkan agar komoditas tidak hanya dipasarkan dalam bentuk segar, tetapi juga menjadi produk olahan bernilai tambah,” ujarnya.
Selain itu, Ketua Bapperida Linda Purnama menegaskan, Kalimantan Barat memiliki posisi strategis karena berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia, dekat dengan Brunei Darussalam.
“Keberadaan posisi lintas barang negara atau PLBN Entikong dan titik perbatasan lainnya seperti Badau, Aruk, dan Temajok membuka peluang penguatan perdagangan dan kerja sama lintas batas,” kata Linda.
Dia juga menyebut Terminal Kijing berpotensi dioptimalkan sebagai hub internasional yang terintegrasi dengan kawasan industri, logistik, perdagangan, dan hilirisasi. Selain itu, ada peluang investasi melalui Kawasan Industri Landak yang mendukung ketahanan pangan dan Kawasan Industri Ketapang yang bergerak di industri etil alkohol.
“Kedekatan dengan Malaysia membuka peluang cross-border tourism melalui pengembangan wisata budaya, alam, kuliner, sungai, pesisir, dan pedalaman, termasuk melalui program Jelajah Pantura dan Jelajah Heart of Borneo,” imbuhnya.
Sedangkan Ketua KADIN Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Arya Rizqi Darsono, menyoroti empat momentum penting pada 2026.
Empat momentum itu adalah pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat di atas angka nasional; neraca perdagangan surplus, pengesahan Perjanjian Perdagangan Batas Terbatas (BTA) RI-Malaysia, dan peningkatan aktivitas ekspor via jalur darat melalui PLBN Entikong.
“Namun, sebagian besar ekspor 2025 masih melalui jalur laut, sehingga diperlukan penguatan ekspor via jalur darat,” ujar Arya Rizqi Darsono.
Sedangkan Direktur Pascasarjana Universitas Tanjungpura (Untan), Nurmainah mengungkap inovasi green butter Tengkawang yang berpotensi dikembangkan untuk bidang kesehatan, khususnya pengelolaan kolesterol.
“UNTAN juga mengembangkan penelitian kratom dan pemanfaatan limbah bauksit sebagai bahan baku pupuk, meski masih menghadapi kendala regulasi karena material tersebut dikategorikan sebagai limbah B3,” jelas Nurmainah.
Wakil Direktur IV Bidang Kerja Sama Politeknik Negeri Pontianak (Polnep), Topan Prihantoro menambahkan, pihaknya memiliki pengalaman kerja sama internasional melalui program pertukaran dosen dan mahasiswa, serta mengembangkan inovasi kratom, udang vannamei, irigasi pintar berbasis tenaga surya, dan perahu tanpa awak bertenaga surya.
Ketua KONI Kalimantan Barat Daud Yordan membeberkan dua agenda besar sport tourism: pertandingan tinju dunia pada 10 Oktober 2026 yang akan dihadiri 38 Ketua KONI Provinsi Seluruh Indonesia dan 10 Menteri/Wakil Menteri, serta Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Barat pada 14-21 November 2026.
“Kedua even diperkirakan akan diikuti lebih dari 5.000 atlet dan diharapkan dapat meningkatkan perputaran ekonomi dari aspek sport tourism,” kata Daud Yordan.[Fas]

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

