Tanjungpinang (Vnews.click) – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) memangkas dana APBD sekitar Rp285 miliar untuk menindak lanjuti Instruksi Presiden Prabowo Nomor 1 Tahun 2025 terkait efisiensi anggaran.
Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, mengatakan pemangkasan anggaran belanja daerah itu tentu berdampak pada penundaan hingga penghapusan sejumlah program yang telah disusun di dalam APBD 2025.
Bahkan beberapa proyek pembangunan fisik yang dibiayai dana alokasi khusus (DAK) APBN juga banyak yang ditunda imbas pemotongan dana transfer ke daerah (TKD).
“Proyek-proyek DAK yang tengah dilelang terpaksa ditunda dulu. Kalau sudah melalui proses lelang diminta jangan dulu menetapkan pemenangnya,” ujar Ansar, Rabu (12/2/2025).
Dia turut menginstruksikan tiap-tiap dinas atau OPD supaya berhemat dengan tidak melakukan pemborosan APBD, seperti penghematan pemakaian listrik, alat tulis kantor (ATK), termasuk biaya perawatan gedung.
Ansar mengakui efisiensi anggaran berdampak pada sejumlah sektor ekonomi di Kepri, karena belanja pemerintah menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut.
“Selama ini, Kepri masih bergantung dengan belanja pemerintah sebagai salah satu indikator utama penunjang ekonomi,” ujarnya.
Ansar mencontohkan efisiensi anggaran perjalanan dinas ASN yang sebesar 50 persen berdampak pada penurunan aktivitas penerbangan di Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang.
Belakangan, maskapai Garuda dan Citilink di Bandara RHF terpaksa mengurangi jam terbang tujuan Jakarta, dari yang tadinya beroperasi setiap hari kini menjadi tiga kali dalam seminggu.
Menurutnya selama ini hampir 30 persen penumpang pesawat di Bandara RHF berasal dari kalangan DPRD, ASN, TNI, Polri hingga pegawai kementerian yang melakukan perjalanan dinas ke luar kota/provinsi.
“Makanya, kalau boleh kami usulkan ke pusat agar ada kajian khusus terkait efisiensi biaya perjalanan dinas, khususnya di wilayah Kepri,” ujar Ansar.
Lanjutnya menyampaikan bahwa dampak penurunan penumpang pesawat juga berimbas pada sektor lainnya, seperti jasa transportasi, perhotelan, serta industri UMKM.
“Kalau bandara sepi, tentu transportasi lokal dan perhotelan ikut sepi, demikian pula dengan produk-produk UMKM tak laku dijual,” pungkas Ansar. (Red)

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

