KEPRI KESEHATAN PEMERINTAHAN SOSIAL TANJUNGPINANG UPDATE Videos

Tanjungpinang (Vnews.click) – Kepala Dinkes Kepri, Mochammad Bisri, menyampaikan sepanjang Januari-Februari 2025, terdapat 201 kasus angka pesakitan DBD yang tersebar di tujuh kabupaten/kota setempat, di mana dua kasus di antaranya meninggal dunia.

“Penyebaran DBD paling banyak terjadi di Batam karena populasi penduduknya tinggi, dengan total sebanyak 87 kasus periode Januari-Februari 2025,” kata Bisri, Rabu (19/2/2025).

Bisri menyebut pemicu DBD rata-rata akibat kelalaian masyarakat menjaga kebersihan di rumah dan lingkungan sekitarnya.

Ia mencontohkan kebiasaan masyarakat saat menampung air hujan, namun wadah penampung air tidak ditutup dan dibersihkan dengan benar, sehingga menjadi tempat perindukan nyamuk. Masyarakat boleh menampung air hujan, asal ditutup dengan benar dan rutin menguras wadah penampung air dengan cara menyikat sampai bersih.

Selain itu, sanitasi rumah yang lembab dan kurang pencahayaan juga bisa memicu DBD, karena nyamuk sangat suka berkumpul di tempat-tempat lembab dan gelap.

“Makanya kalau di pagi hari jendela dan pentilasi rumah dibuka agar matahari masuk ke rumah, sehingga nyamuk tidak bebas beterbangan di dalam rumah,” ujar Bisri.

Bisri melanjutkan bahwa pihaknya telah menyebarkan Surat Edaran (SE) Gubernur Kepri Ansar Ahmad terkait kewaspadaan terhadap kasus DBD hingga ke jajaran kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan, serta puskesmas.

Melalui SE itu, lanjutnya, pihak-pihak terkait dapat melibatkan masyarakat untuk melakukan kegiatan gotong-royong membersihkan lingkungan perkantoran dan rumah warga guna memberantas sarang nyamuk pemicu DBD.

Kegiatan itu harus digelar rutin seperti seminggu sekali, dan bukan hanya karena ada momentum tertentu untuk memberantas sarang nyamuk.

Di samping itu, Dinkes Kepri turut menggalakkan gerakan 3M Plus dalam hal pemberantasan sarang nyamuk (PSN), yakni menguras tempat penampungan air, lalu menutup tempat-tempat penampungan air, serta mendaur ulang berbagai tempat yang menjadi tempat nyamuk Aedes Aegypti pembawa virus DBD pada manusia.

“Kami pun rutin menggelar edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait bahaya penyakik DBD melalui media masa hingga sosial media,” pungkasnya. (Red/ANTARA)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *