Vnews.click, Tanjungpinang – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kepri mendorong sistem ideal kelistrikan di Pulau Bintan tidak boleh hanya bergantung dengan satu sumber pasokan jika ingin mewujudkan keandalan listrik.
Pulau Bintan sudah saatnya memiliki sistem cadangan listrik yang seimbang dengan kebutuhan daya listrik pelanggan, yang didominasi rumah tangga, industri hingga bisnis.
“Selama ini atau sejak 2015, listrik Pulau Bintan hanya dipasok dari satu sumber utama, yaitu Bright PLN Batam (anak usaha PT PLN),” kata Kepala Dinas ESDM Kepri, Darwin, Rabu (28/10/2026).
Menurut Darwin kejadian pemadaman listrik total (blackout) Batam-Bintan pada 12 Oktober 2026, telah mendorong PT PLN (Persero) mengambil langkah-langkah strategis sebagai upaya meningkatkan sistem keandalan listrik Pulau Bintan, yang meliputi wilayah Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang.
Pemerintah Provinsi Kepri, kata dia, ikut mendukung PLN mengatasi persoalan listrik di Pulau Bintan agar persoalan blackout yang dipicu gangguan pembangkit di Batam itu tidak terulang di kemudian hari.
Dia memaparkan ada dua opsi PLN untuk memperkuat kapasitas kelistrikan di Pulau Bintan. Pertama, membangun pembangkit sendiri sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.
Kedua, menjalin kerja sama dengan pemegang wilayah usaha yang memiliki pembangkit listrik berkapasitas energi besar, seperti di PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) di Bintan, dan PLTU Tanjung Sauh di Batam.
“Antara membangun atau kerja sama, tentu PLN akan mempertimbangkan kelaikan finansial dan operasi. Yang paling laik dan siap itu kerja sama, karena PLN tak perlu bangun pembangkit sendiri, apalagi menyiapkan lahan hingga perizinan,” ujarnya.
Darwin menjelaskan saat ini di PT BAI memiliki PLTU berkapasitas 160 MegaWatt (MW), bahkan akan dibangun lagi PLTU dengan kapasitas 600 MW, menyusul masuknya dua perusahaan asing di kawasan ekonomi khusus tersebut.
Dari total 600 MW tersebut, sebanyak 300 MW ditargetkan rampung 2028, dan 100 MW di antaranya akan disuplai ke PLN melalui skema kerja sama jual-beli daya listrik untuk kebutuhan di Pulau Bintan.
Sedangkan PLTU Tanjung Sauh dengan kapasitas 1 GigaWatt, masih dalam tahap pembangunan. Meski demikian, PLN dan PLTU Tanjung Sauh sudah menandatangani kontrak kerja sama pembelian listrik sebesar 150 MW untuk kebutuhan di Pulau Bintan.
“Kalau pembangunan PLTU Tanjung Sauh lancar, di triwulan kedua 2027, energinya sudah bisa masuk ke Bintan,” ungkap Darwin.
Lanjutnya mengutarakan dengan tambahan daya 150 MW dari Tanjung Sauh, maka pasokan daya listrik Pulau Bintan sudah melebihi batas beban puncak di kisaran 105-110 MW per hari. Artinya ada kelebihan daya 40 sampai 45 MW.
Darwin juga memaparkan kondisi terkini listrik di Pulau Bintan hanya memiliki dua mesin pembangkit PLTD dengan kapasitas daya 35-37 MW, yakni PLTD Suka Berenang dan PLTD Air Raja. Pasokan daya tersebut masih jauh dari kebutuhan listrik di Tanjungpinang dan Bintan.
Saat situasi blackout kemarin, PLN mengoperasikan kedua PLTD ini untuk menerangi masyarakat secara bergantian. (Lus)

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

