VNews.click, Tangerang – Berdasarkan pengalaman pelaksanaan puncak ibadah haji sebelumnya, maka Tim Pengawas Haji DPR RI memberikan perhatian khusus di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna.
Sebab menurut anggota Timwas Haji DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, untuk sampai di Armuzna terjadi mobilisasi jutaan jemaah dari seluruh dunia.
“Pengawasan haji tahun ini tidak hanya fokus terhadap pelayanan dasar seperti penginapan dan konsumsi, juga kesiapan menghadapi kondisi darurat saat puncak haji berlangsung,” kata Rieke Diah Pitaloka, di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (18/5/2026).
Dijelaskannya, ada lima tugas utama Timwas Haji DPR, yaitu mengawasi akomodasi, katering, transportasi, kesehatan, dan puncak haji di Armuzna.
“Ini menyiapkan skenario kedaruratan, terutama ketika mobilitas jemaah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” ujarnya.
Armuzna, lanjutnya, merupakan fase paling berat dalam seluruh rangkaian ibadah haji. Kepadatan manusia dalam waktu bersamaan membuat risiko kelelahan, keterlambatan transportasi, hingga kekacauan mobilisasi sangat mungkin terjadi jika skenario pengamanan tidak dirancang secara matang.
Memedomani pengalaman haji tahun 2023 ketika dia berangkat haji, berbagai persoalan mobilisasi cukup serius dan berdampak langsung terhadap kenyamanan jemaah Indonesia.
“Tahun 2023 saya berangkat haji, bukan sebagai Timwas. Banyak persoalan yang cukup serius terkait mobilisasi jemaah kita ketika di puncak haji tersebut. Mudah-mudahan tahun ini tidak ada begitu,” harapannya.
Oleh karena itu, Rieke mendorong ada penguatan koordinasi antarlembaga agar distribusi transportasi, pengaturan jadwal keberangkatan, hingga penanganan jemaah sakit dapat dilakukan lebih cepat dan terukur.
“Timwas DPR juga akan memastikan pemerintah memiliki langkah mitigasi apabila terjadi kepadatan ekstrem di jalur perpindahan jemaah,” tegasnya.
Politikus PDI Perjuangan itu berharap pelayanan terhadap jemaah Indonesia tahun ini dapat berjalan lebih baik dibanding musim haji sebelumnya. Pengaturan tahapan ibadah yang tertib akan sangat menentukan keselamatan dan kenyamanan jemaah di Tanah Suci.
“Harapannya lebih baik lagi pelayanan kepada jemaah Indonesia dari Indonesia sendiri tentunya, untuk mengatur bagaimana mereka bisa melakukan tahapan-tahapan haji dengan baik,” ujarnya.
Selain Armuzna, pengawasan kesehatan juga menjadi bagian penting. Tingginya aktivitas fisik dan cuaca ekstrem di Arab Saudi membuat jemaah rentan mengalami kelelahan. Dalam kondisi tertentu, keterlambatan penanganan dapat berujung fatal, terutama bagi Lansia.
Rieke menegaskan pengalaman masa lalu harus menjadi bahan evaluasi bersama agar pelaksanaan haji Indonesia semakin tertata. “Keberhasilan haji bukan hanya soal kelancaran ibadah, tetapi juga kemampuan negara melindungi keselamatan jemaah selama berada di Tanah Suci,” pungkasnya.

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

