KEPRI SOSIAL TANJUNGPINANG

Vnews.click, Tanjungpinang – Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPPP) Kota Tanjungpinang menyatakan sisa makanan menjadi penyumbang terbesar sampah wilayah tersebut.

“Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menunjukkan sekitar 60 persen dari 98 ton sampah yang dihasilkan setiap hari pada 2024, merupakan sampah makanan,” kata Kepala Bidang Ketahanan Pangan DPPP Tanjungpinang Yesi Perdeawati, Kamis (28/5/2026).

Yesi mengatakan besarnya jumlah sampah makanan menunjukkan masih banyak pangan yang terbuang.

Oleh karena itu, pihaknya menggencarkan program stop boros pangan (SBP) kepada masyarakat. Program ini bagian dari gerakan selamatkan pangan (GSP) yang bertujuan mengurangi pemborosan pangan.

“Jika tidak terbuang, jumlahnya diperkirakan setara untuk memenuhi kebutuhan makan sekitar 50 persen masyarakat Tanjungpinang,” ujarnya.

Dia menjelaskan banyak pangan terbuang sebelum sampai ke meja makan masyarakat. Mulai dari hasil panen yang tercecer, rusak saat penyimpanan dan distribusi, membusuk di pasar, hingga makanan yang tidak habis dikonsumsi.

Bahkan setelah dimasak pun belum tentu habis dimakan, maka itu potensi kerugian akibat sampah makanan sangat besar.

Menurut Yesi dibalik pangan yang dikonsumsi masyarakat terdapat berbagai dukungan pemerintah kepada petani dan nelayan, mulai dari subsidi pupuk dan bahan bakar hingga pelatihan.

“Dalam sepiring nasi itu banyak subsidi pemerintah, begitu juga tempe, ikan, ayam, dan sayur,” ucapnya.

Lanjut Yesi mengajak masyarakat membiasakan mengambil makanan secukupnya dan berbelanja sesuai kebutuhan untuk mengurangi pemborosan pangan.

Selain itu, lanjutnya, DPPP Tanjungpinang juga tengah menyusun surat edaran yang akan disampaikan kepada Wali Kota Tanjungpinang mengenai pengurangan sampah makanan.

“Nanti edarannya ditujukan untuk hotel, restoran, kantin, SPPG, sekolah hingga masyarakat luas karena berpotensi menghasilkan sampah makanan,” ungkapnya.

Yesi menambahkan selain mengampanyekan stop boros pangan, DPPP turur membagikan tote bag kepada masyarakat sebagai bentuk edukasi pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.

“Itu salah satu bentuk kampanye kami kepada masyarakat, sekaligus mengurangi penggunaan plastik,” pungkasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *