Tanjungpinang (Vnews.click) – Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Rudy Chua, menyampaikan, kegiatan revitalisasi SMK Negeri 1 Kota Tanjungpinang akan didukung anggaran Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Prasarana Pemukiman Wilayah Kepri.
“Perkiraan awal, membutuhkan anggaran sekitar Rp40 miliar,” kata Rudy Chua di Tanjungpinang, Selasa (20/6/2023).
Menurutnya secara prinsip revitalisasi SMK Negeri 1 Tanjungpinang yang meliputi kegiatan pembangunan dan rehabilitasi ruang kelas belajar (RKB) tersebut, sudah disetujui dan akan dikerjakan secepatnya oleh Kementerian PUPR.
Legislator Dapil Tanjungpinang itu mengatakan dari hasil pantauan di lapangan, kondisi SMK Negeri 1 memang memprihatinkan.
“Setelah dilakukan peninjauan, ternyata dengan jumlah murid sekitar 1.800 orang. SMK Negeri 1 butuh 52 RKB, sementara ruangan yang ada hanya 35 RKB. Artinya, mereka masih kekurangan 17 RKB,” ujar Rudy Chua.
Dia menyampaikan karena keterbatasan RKB, selama bertahun-tahun ke siswa di SMK Negeri 1 Tanjungpinang menerapkan pola belajar berpindah-pindah sesuai tempat yang kosong atau tersedia, misalnya di lapangan olahraga, laboratorium, hingga ruang kelas atau di atas tanah kosong.
Selain itu, beberapa ruang kelas juga mengalami rusak ringan hingga parah, sehingga harus segera diperbaiki atau ditingkatkan.
Kondisi ini, lanjut dia, sangat mengganggu konsentrasi belajar anak-anak. Solusi mengatasi persoalan tersebut ialah dengan meminta bantuan anggaran dari pemerintah pusat. Anggaran revitalisasi SMK Negeri 1 akhirnya berhasil diperjuangkan ke Kementerian PUPR, melalui Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Provinsi Kepri, Cen Sui Lan.
“Kita bersyukur dan berterima kasih anggota DPR RI Dapil Kepri, Cen Sui Lan bersedia membantu memfasilitasi dan menindaklanjuti ke Kementerian PUPR guna dilakukan rehab dan membangun ruangan SMK 1 melalui dana APBN,” ujarnya.
Sementara, Wakil Kepala Sekolah (Wakepsek) Bidang Sarana dan Prasaran SMK Negeri 1 Tanjungpinang, Mardiana, menyampaikan bahwa gedung sekolah tersebut tidak pernah direvitalisasi sejak pertama kali dibangun tahun 1956 (sebelumnya bernama Sekolah Menengah Ekonomi Atas atau SMEA).
Ia mengakui saat ini beberapa ruangan belajar rusak parah, salah satunya ruang laboratorium yang tak bisa digunakan sama sekali.
“Hanya ada satu bangunan yang sempat direvitalisasi pada tahun 2020 melalui dana alokasi khusus (DAK) APBN. Yakni, pembangunan gedung perkantoran dua lantai,” pungkasnya. (Redaksi)

Ikuti saluran vnews.click – Media Informasi Kepri di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VanjuMgDjiOcvP1Y1x2N

