DPR RI POLITIK

VNews.click, Jakarta – Anggota DPR RI, Firman Soebagyo mengkritik Syed Saddiq soal seruan boikot Indonesia. Bahkan, politikus Golkar itu menantang Malaysia membuka mata soal eksploitasi SDA dan aliran dana ke luar negeri.

Firman menilai pernyataan tersebut provokatif dan tidak mencerminkan hubungan baik antara Indonesia dan Malaysia yang telah terjalin sejak lama. Ia meminta, parlemen Malaysia melihat kembali sejarah hubungan kedua negara sebelum melontarkan pernyataan yang berpotensi memperkeruh hubungan bilateral.

“Buka mata dan telinga kalian! Jangan munafik!” tegas Firman dalam siaran pers, Kamis (15/10/2026).

Menurut Firman, seruan boikot tersebut terkesan hanya untuk mencari popularitas. Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan Malaysia, termasuk dalam bidang pendidikan ketika Malaysia belum semaju sekarang.

“Ini tindakan provokatif anggota parlemen yang hanya mencari popularitas murahan. Anggota parlemen harus belajar sejarah bagaimana orang Malaysia belajar di Indonesia waktu Malaysia belum maju,” ujarnya.

Firman juga menyoroti aktivitas perusahaan asal Malaysia yang berinvestasi di sektor perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan sumber daya alam lainnya di Indonesia. Ia mempertanyakan dampak aktivitas tersebut terhadap kelestarian hutan, khususnya di wilayah perbatasan.

Ia menilai persoalan eksploitasi sumber daya alam harus menjadi perhatian serius pemerintah, terutama apabila aktivitas perusahaan berdampak terhadap kerusakan lingkungan dan merugikan kepentingan nasional.

Selain itu, Firman menyoroti dugaan adanya dana hasil eksploitasi kekayaan alam Indonesia yang disimpan di luar negeri, termasuk Malaysia dan Singapura.

“Berapa banyak uang, berapa triliun hasil mengeruk kekayaan alam kita, hasil sawit, hasil tambang, hasil hutan, yang disimpan di negara mereka termasuk Singapura? Mereka kaya dari hasil bumi Indonesia, lalu uangnya disimpan di bank-bank Malaysia dan Singapura. Buka mata kalian!” kecamnya.

Firman menegaskan, persoalan tersebut perlu dijelaskan secara terbuka melalui data dan mekanisme pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Menurut dia, transparansi diperlukan agar masyarakat mengetahui aliran dana yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia.

“Mereka mengeruk kekayaan alam kita, merusak hutan kita, lalu uangnya mereka simpan di negara mereka, termasuk Singapura. Mereka kaya raya dari Indonesia, lalu sekarang mau memboikot dan menekan finansial Indonesia? Ini logika terbalik, ini munafik!” ujarnya.

Sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Politik KADIN Indonesia, Firman mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perusahaan asing yang menjalankan usaha di sektor sumber daya alam Indonesia.

Ia juga meminta pemerintah menindak tegas perusahaan yang terbukti melanggar hukum dan merusak lingkungan, termasuk melalui pencabutan izin sesuai ketentuan yang berlaku.

Firman turut mendesak Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) serta Kementerian Keuangan untuk menelusuri aliran dana hasil eksploitasi sumber daya alam Indonesia yang diduga disimpan di luar negeri.

“Saya mendesak evaluasi menyeluruh. Nasionalisasi dan cabut izin perusahaan Malaysia di Indonesia yang terkait sumber daya alam yang merusak hutan. Saya juga mendesak PPATK dan Kementerian Keuangan untuk membuka data, berapa besar dana hasil eksploitasi sumber daya alam Indonesia yang dilarikan dan disimpan di Malaysia dan Singapura. Biar rakyat tahu,” tegasnya.

Firman menambahkan, Indonesia merupakan negara besar yang memiliki peran penting dalam hubungan ekonomi dan sosial di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, ia meminta semua pihak menjaga hubungan bilateral dengan mengedepankan rasa saling menghormati.

Ia mengingatkan agar semangat persaudaraan antara dua negara serumpun tidak hanya digunakan sebagai slogan ketika muncul persoalan, tetapi juga diwujudkan melalui sikap saling menghargai kepentingan nasional masing-masing.

“Jangan kalau ada masalah selalu mengklaim bangsa serumpun, tetapi kelakuannya merampok kekayaan alam serumpunnya sendiri,” pungkas Firman.[Fas]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *